Category Archives: Sastra

Secercah Harapan yang Terpendam

Anisa semakin nyaman menikmati pemandangan daun yang bergoyang. Ia begitu kagum dengan yang dia lihat. Dia semakin terpesona saat sepasang burung kutilang tiba-tiba hinggap di ranting pohon. Burung-burung itu bernyanyi sahut-sahutan. Tidak hanya itu, sang burungpun juga kejar-kejaran.

Sepertinya kedua burung itu sepasang kekasih. Wah romantisnya. Andaikata aku bisa seperti itu. Tapi sama siapa ya??

Batin Anisa dalam hati. Dia tertawa. Menyadari bahwa sekarang dia belum punya pasangan seperti burung kutilang itu.

Setelah sekian lama berada di bawah jendela, akhirnya Anisa pun bosan. Diapun baru sadar kalau sekarang sudah jam sembilan pagi. Bimbang antara mau masuk kerja atau berdiam diri saja di rumah. Agaknya ada sedikit rasa penyesalan dalam hatinya.

“Kenapa juga tadi tidak berangkat kerja. Tanpa alasan lagi. Huh.” Sesal Anisa. Kesal.
“Terus sekarang mau ngapain coba? Oh iya, aku kan belum menanyakan ke Aisyah bagaimana Hasan bisa menitipkan surat kepadanya, mungkin Aisyah tau dari mana Hasan mengenalku.” tambahnya.

Saat Anisa menerima surat titipan dari Hasan, dia tidak bertanya-tanya darimana Hasan tau kalau Aisyah teman dekatnya. Anisa pun memutuskan untuk menghubungi Aisyah. Teman dekat, sekaligus teman kerja satu divisi di kantor.

“Assalamu’alaikum. Aisyah, bagaimana kabarmu hari ini? Hari ini aku tidak masuk kerja. Oh iya bagaimana kondisi di kantor? Ada kabar apa aja?” tulis Anisa dalam pesan singkat.

Anisa takut kalau dia telepon Aisyah, bakal mengganggu pekerjaannya. Akhirnya di memutuskan sms saja. SMS telah di kirim. Delivered. Tinggal menunggu balasan dari Aisyah.

Klunting…
Suara nada dering handphone Anisa saat menerima pesan. Dibukanya kontak pesan masuk. Kontaknya tertulis Aisyah. Ah ternyata pesan yang masuk balasan dari Aisyah. Dibukalah isi pesan itu.

“Wa’alaikumussalam warahmatullah. Alhamdulillah Allah masih sangat sayang kepadaku. Buktinya Allah memberiku sakit demam, sehingga aku tidak masuk kerja dan aku bisa banyak mengingat-Nya. Subhanallah Anisa, kok kamu tidak masuk kerja? Kamu sakit juga ya?” Anisa kaget membaca isi SMS dari Aisyah. Anisa pun memutuskan untuk menghubungi Aisyah lewat telepon. Menanyakan apakah Aisyah di rumah dan ada yang menjaganya atau tidak. Menanyakan apakah sudah minum obat atau belum. Anisa panik.

Di pencetnya tombol telepon.
Tuutt..tuuttt..ttuuuttt..
Terhubung. Harap-harap cemas Anisa menunggu teleponnya di angkat oleh orang yang ada di seberang sana.

Klik…
Hallo, Assalamualaikum, ada apa Anisa, kok telepon?” suara Aisyah di seberang sana.

“Waalaikumussalam warahmatullah. Aisyah, bagaimana kabarmu? Sekarang kamu di rumah atau di rumah sakit? Udah minum obat belum? Kok nggak kabar-kabar sih kalau sakit??” berondong Anisa. Dia sangat cemas dengan kondisi Aisyah. Anisa tidak ingin sahabatnya ini kenapa-napa. Anisa juga sudah menganggap Aisyah seperti saudara kandungnya sendiri.

“Alhamdulillah Anisa, saya di rumah. Sendirian, umi dan abi sedang keluar rumah. Sudah minum obat kok, kamu nggak perlu cemas dan khawatir seperti itu. Oke.” yang di seberang sana malah tersenyum menanggapi pertanyaan Anisa. Aisyah tidak sadar kalau lawan bicaranya sangat khawatir dan mencemaskan keadaannya.

“Ih kok kamu tenang-tenang aja sih. Ya sudah aku ke rumahmu sekarang ya. Kamu jangan kemana-mana. Awas nanti kalau kamu tidak ada di rumah.” Anisa sedikit sangsi dengan jawaban Aisyah. Mendengar kalau Aisyah di rumah sendirian, Anisa memutuskan untuk pergi ke rumahnya.

“Iya lah, kalau berbicara itu harus tenang sayang. Ya sudah kalau mau ke rumah, datang aja, aku nggak bakal pergi. Aku aja sakit, memanganya kalau orang sakit mau pergi kemana?” jawab Aisyah sambil bergurau.

“Hmm oke tunggu ya. Siap meluncur. Tapi aku mandi dulu ya. Hehe” jawab Anisa menenangkan diri.

“Iya sayang, mandi yang bersih ya. Haha” jawab Aisyah menggoda.
“Sudah ya, buruan mandi, baunya ke cium sampai sini nih. Haha.” tambah Aisyah. Terbahak.

Tuutt..tutt..tutt ..tutt

Tiba-tiba percakapan terputus. Ternyara Aisyah yang memutus pembicaraan lewat telepon. Daripada nanti bakal dapat omelan dari Anisa karena gurauan nya, ia memutus telepon. Tanpa salam.

Sementara itu, Anisa yang berada di seberang kesal dengan perbuatan sahabat karibnya ini.
“Ih ini orang kenapa juga, baru sakit masih saja menggoda. Dasar Aisyah. Ah sudahlah mau mandi keburu siang.” kata Anisa. Dia lempar handphone nya ke kasur begitu saja. Langsung beranjak ke kamar mandi.

— Bersambung —

Advertisements

Mengikhlaskan Yang Tercinta

Setelah membaca surat dari Hasan, ibunda Anisa merenung sejenak. Ia merasa tidak asing lagi dengan nama Hasan.

Apa mungkin yang namanya Hasan itu, yang datang dua hari lalu??
Saat Anisa sedang bekerja sift malam?
Ah tidak mungkinlah dia tau alamat rumah kami kalau di dalam surat dia menyatakan diri tidak mengenal Anisa melainkan hanya sedikit.
Sungguhpun kalau demikian, akhlak Hasan sangat memesona, aku tertarik dengannya. Baiklah Hasan kalau kamu ingin meminang putriku, aku persilahkan engkau membawanya

Batin Ibunda Anisa. Beliau merundukkan kepalanya. Membuat Anisa penasaran.

“Bunda tidak apa-apa kan?” tanya Anisa.

“Ehm.. Tidak apa-apa kok.” Jawab ibundanya. Gugup.

“Tapi kok bunda seperti menyimpan sesuatu dari Anisa?” Anisa semakin penasaran. Menyelidik.

“Ayolah bunda, terus teranglah, aku kan udah mengatakan apa adanya.” Desak Anisa.

Sekarang giliran Anisa yang memelas meminta penjelasan dari ibundanya. Memang, kalau sudah bercerita, Anisa juga akan menuntut lawan bicaranya untuk bercerita juga. Kali ini ibundanya sepertinya belum bisa berterus terang kepada putri tersayangnya.

“Maafkan bunda sayang, bunda belum bisa menceritakannya kepadamu. InsyaAllah suatu hari kamu akan tau.” jawab bunda Anisa. Sambil mengusap jilbab Anisa.

“Yah bunda pasti begitu kalau di suruh bercertia gantian.” ketus Anisa. Cemberut. Kecewa.

“Bunda tidak ingin menyakiti persaanmu sayang. Bunda perlu waktu yang tepat untuk menceritakannya kepadamu. Percayalah bunda tidak pernah membohongimu.” Kata bunda menasehati.

Anisa hanya diam. Menatap dalam mata ibundanya yang juga menatapnya. Anisa yakin pasti ada suatu hal besar yang disembunyikan oleh ibundanya. Pasti abahnya juga terlibat dalam urusan ini kalau ibundanya harus menunggu waktu yang tepat untuk bercerita.

“Baiklah bunda, Anisa akan menunggu waktu yang tepat, agar abah dan bunda mau menceritakan semua kepada Anisa.” Akhirnya Anisa mengalah. Beranjak dari tempat tidurnya. Kembali ke jendela memandang dedaunan yang bergoyang tertiup angin.

“Maafkan bunda sayang. Bunda janji dalam waktu dekat bunda akan bercerita.” bunda Anisa agak menyesal dengan keputusannya. Tapi ia benar-benar belum bisa bercerita tentang Hasan sekarang.

“Bunda pergi dulu ya sayang. Ada pekerjaan yang belum bunda selesaikan.” tambah bunda.

Ibunda Anisa keluar kamar, membiarkan putrinya termenung di bawah jendela. Anisa yang disapa juga tidak memperhatikan ucapan bundanya. Larut dalam lamunan kembali.

— Bersambung —

Selaksa Rindu Untukmu

Cuaca cerah tak berawan. Langit biru indah berhias bintang-gemintang. Tiupan angin sepoi menambah indah dan hangatnya malam ini. Malam pertama setelah ditinggal pergi indahnya berkah Ramadhan.

Entah, aku ingin menuliskan lanjutan cerpen yang sebelumnya. Akan tetapi, semerbak rindu itu tak bisa ku hapus malam ini. Rindu dengan suatu masa saat kita bersama. Saling sapa. Saling tanya kabar. Dan selaksa kerinduan yang menerpa.

Ingin ku buang rasa rindu itu. Namun, semakin aku paksa untuk menyingkirkan rasa rindu itu, maka semakin kuat tarikan rasa rindu itu. Rindu bertemu denganmu. Namun, aku sadar, aku belum bisa menemuimu sekarang.

Tulisan ini, aku curahkan dengan segenap rasa untuk mengobati rasa rinduku padamu. Namun, aku sadar, ada yang lebih berhak untuk menerima aduanku ini. Allah. Ya, Allah lah tempatnya. Dengan perantara doa yang aku panjatkan kepada-Nya, seakan telah mengusir kerinduanku padamu.

Malam ini, tepatnya hari kamis, 2 Syawwal 1437 H. Aku merasa sepi. Apapun yang aku rasakan sekarang, aku tidak bisa memastikannya. Aku hanya merasa rindu dengan seseorang.

Aku hanya berharap, suatu ketika, orang yang aku maksud membaca tulisan ini. Mungkin besuk, atau lusa, atau satu minggu kemudian, atau satu tahun kemudian, entahlah, aku tidak akan pernah tau kapan ia akan membaca tulisan ini.

Di pulau seberang yang jauh ini, aku sisipkan doa kepada Rabb ku juga Rabbmu, agar dirimu dan keluargamu senantiasa dilindungi oleh Allah dan senantiasa diberi nikmat dan rahmat olehNya

teruntuk yang jauh di sana

Bangka Belitung, 2 Syawwal 1437 H
salam rindu
sang peminang bidadari syurga

Lezatnya Untaian Ukhuwah

Derai air mata mengalir membasahi pipi

Melunturkan rona merah yang begitu memesona

Tiada seorang pun yang mampu membendung air mata itu

Tanpa ukhuwah yang sekuat baja

 

Teman, sahabat dan semua orang disisi kita

Bak mutiara yang selalu dirindu dan di elu-elukan

Begitu berharga dan menyedapkan mata

Namun hanya seujung jari orang-orang yang tahu akan makna tersebut

 

Tanpa kawan, tanpa sahabat, tanpa orang-orang yang mencintai kita

Dunia terasa hampa dan hambar

Berjalan sendiri, terasa seperti ada yang mengawasi

Merinding kala membelah kesepian

 

Bersama mereka, duka, lara dan bahagia kita lalui bersama

Bersatu dalam dekapan ukhuwah

Berjalan bersama demi meraih mardhotillah

 

Kairo, 2 Syawwal 1438 H

Daun Yang Dirindukan

Duhai daun, engkau begitu setia menemani tangkai yang telah menopangmu. Saat hujan lebat menerpamu, engkau tak merintih kesakitan karena derasnya air yang menimpamu. Kala angin bertiup kencang, engkau tetap kokoh memegang sang tangkai. Daun, aku kagum padamu, kesetiaanmu begitu tulus, begitupun cinta yang kau berikan kepada tangkai yang telah menopangmu. Duhai daun, andai kau bisa bicara, aku akan memintamu untuk menerangkan bagaimana caranya kamu mampu setia dan tulus memberikan cintamu.
Anisa merenung di bawah jendela kamarnya. Ia begitu kagum dengan lambaian daun di samping rumah yang rimbun. Pagi ini cuaca sangat menyenangkan untuk bercengkrama dengan alam. Begitupun dengan Anisa. Ia sangat menikmati suasana pagi di sekitar rumahnya.
“Assalamualaikum.. Anisa? Kamu tidak berangkat bekerja? Sudah beranjak siang sayang. Abi kamu juga sudah berangkat.”  suara ibu Anisa di balik pintu kamarnya. Ia tidak sadar kalau ibunya sudah mengetuk pintu empat kali. Ia terlalu asyik dengan lamunan tentang kesetiaan dan keikhlasan.
“Eh…iya bunda. Sebentar Anisa buka dulu pintunya.” Anisa berlari mendekati pintu. Ia pun langsung memeluk dan mencium kening ibundanya.
“Kamu kenapa sayang kok tidak berangkat kerja, kamu sakit?” tanya ibundanya. Menyelidik.
“Tidak bunda, Anisa tidak sakit kok, nih Anisa sehat kan.” kata Anisa sambil tersenyum. Meyakin ibundanya kalau ia benar-benar sehat. Ibundanya hanya tersenyum.
“Kalau sehat kok tidak berangkat kerja? Bukannya hari ini masih hari kamis?” tanya ibundanya. Semakin penasaran.

“Ayolah sayang, berceritalah kepada bunda, bunda siap jadi tong sampahnya kok.” tambahnya. Merayu.
“Emm…” Anisa bingung mau menjawab apa. Karena ia tidak punya alasan untuk menjawab semua pertanyaan ibundanya.

Ia tidak masuk kerja bukan karena sakit, bukan juga karena hari libur apalagi cuti. Tapi karena ia ingin merenungi surat dari Hasan yang diberikan dua hari lalu. 
“Ayo dong masak sama bundanya sendiri nggak mau jujur?” desak ibunda.
Anisa semakin bingung mau menjawab apa. Ia mempertimbangkan semua kemungkinan yang akan terjadi. Ia tau kalau berterusterang atau tidak, ibundanya tidak akan marah, abahnya pun juga sama. Beliau berdua telah mendidiknya untuk berkata jujur, menahan amarah, menepati janji. Pasti kalau seorang guru tidak akan pernah melanggar apa yang telah ia sampaikan kepada muridnya. Prinsip itulah yang ditanamkan abah dan ibunda Anisa pada dirinya. 
“Emm.. Anisa tidak apa-apa kok bunda. Bunda tidak perlu khawatir sama Anisa” jawab Anisa dengan rona merah di pipi nya. Ia belum berani berterusterang pada bundanya.
“Rona merahmu keluar sayang, pasti ada yang kamu sembunyikan dari bunda. Coba Anisa cerita sedikit saja sama bunda ya sayang, bunda nggak akan beranjak dari kamar kalau Anisa belum cerita sama bunda.” desak bunda. Ibundanya selalu tau kalau muncul rona merah di pipi Anisa, pasti ia memendam sesuatu. Dan itu satu-satunya senjata paling ampuh untuk melumpuhkan Anisa agar berterusterang tentang apapun yang sedang di alaminya.
“Baiklah bunda, Anisa mengalah. Emm..tapi sebelum bercerita, bunda harus janji dulu ya.!” Anisa selalu minta syarat kalau mau bercerita banyak hal pada bundanya dan juga pada abahnya. Entahlah ada susuatu yang menarik kalau dia sudah berkata seperti itu. 
“Iya sayang, janji apa? InsyaAllah bunda akan menepatinya.” jawab bunda dengan senyum mengembang. Ia pun mengelus rambut putri kesayangannya. 

“Bunda jangan bilang ke Abbah ya kalau Anisa pernah bercerita sama bunda.” jelasnya. Ibundanya pun hanya mengangguk. Tanda setuju. 
“Bunda, dua hari lalu Anisa dapat surat dari Hasan, padahal Anisa belum pernah bertemu sama Hasan sebelumnya. Surat itu di titipkan lewat teman kerja Anisa bunda. Sebentar ya Anisa ambilkan dulu suratnya.” Anisa menuju almari bajunya dan mengambil surat yang di bungkus amplop warna merah muda berbentuk hati. Surat itu sudah ia baca setelah ia terima dari teman kerjanya.
“Ini bunda suratnya.”  Anisa menyerahkan amplop berbentuk hati itu kepada bundanya.
“Wah putri bunda tersayang sudah ..ehm ehm.” bundanya tertawa geli. 
“Bunda biasa aja lah, dulu kan bunda juga pernah sama abah.” Anisa tidak mau kalah sama bundanya. Ia berani ngomong seperti itu karena dahulu bundanya pernah bercerita tentang pertemuannya sama abah. Hampir persis kejadiannya. Hanya waktu yang membedakan. 

Ibundanya pun membuka amplop merah muda itu dan membaca isinya.
Dear : Anisa Ummahati
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh 
Segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam, berkat rahmatNya, nikmatNya, dan hidayaNya kita dipertemukan dalam satu atap suci. Islam. Shalawat serta salam tetap kita haturkan kepada nabi Pamungkas Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan pengikutnya sampai hari kiamat kelak.
Anisa, aku telah lama mengenalmu melalui teman-temanku. Aku ingin mendatangi orangtuamu dan meminta izin untuk meminangmu. Namun, aku memiliki suatu urusan yang menyangkut masa depanku dan keluargaku. 
Anisa, bagaimana menurutmu, apabila kamu dihadapkan dengan dua pintu, padahal kedua pintu itu menghubungkan ke jalan yang tujuan akhirnya sama. Pintu-pintu itu memiliki desain yang sangat menawan. Apabila dirimu membuka kedua pintu itu, maka kamu akan menjumpai jalan yang penuh dengan bunga dan buah-buahan di sepanjang jalan sampai tempat tujuanmu. Sepanjang jalan itu pula, kamu juga akan mendapati kenikmatan-kenikmatan yang kamu inginkan. Dengan kenikmatan itu, kamu bisa merasa nyaman ketika berjalan sampai tempat tujuanmu kelak.
Anisa, pintu manakah yang akan kamu pilih untuk menempuh jalan menuju tempat tujuanmu? Padahal keduanya memiliki kesamaan dan keduanya benar-benar memiliki kelebihan yang sama.
Anisa, mungkin hanya itu surat yang bisa aku buat. Maafkan diriku yang hina dan begitu lemah ini. Belum berani menyatakan secara tegas tentang keputusanku. Setiap malam aku selalu memohon kepada Allah agar Dia memberi  kekuatan kepadaku. Aku berharap, dirimu tidak menaruh harapan pada diriku karena surat ini.
Terimakasih

Wassalamualaikum warahmatullah
Jeddah, 2 Ramadhan 1437 H
Hasan 
— bersambung—

Sang Penerus Kehidupan

Tak pernah mengeluh
Tak peduli peluh mengucur deras membasahi tubuh
Tubuhnya bak mesin yang bekerja tanpa henti
Tanpa pamrih ia menanam dan menuai
Meski slalu dipermainkan para tengkulak
PETANI…
Dialah Sang Penerus Kehidupan
Tanpanya tiada secuil makanan yang bisa dikonsumsi
Jerih payahnya menghadirkan cita rasa tersendiri
Menggugah pemuda tuk menekuni jasa-jasanya
PETANI…
Kau adalah bapak yang takkan pernah tergantikan
Selalu menyinari saat pangan mulai redup
Kau senantiasa tampak kokoh dan tak tergoyahkan
Saat badai krisis ekonomi menyapu elemen bangsa
Duhai Sang Penerus Kehidupan
Tetaplah hidup sampai titik tanah penghabisan

Meraih Masa Depan

Meraih Masa Depan
Lihatlah langkah kakimu
Itulah jalan kehidupanmu
Ayo, lihatlah ke depanmu
Disanalah letak masa depanmu

Berjuta doa terus mengalir dipanjatkan tanpa henti
Beribu kasih, tulus dipersembahkan
Bersama cinta bunda dan para sahabat

Cita-cita selalu setinggi angkasa
Sedih bila tangan tak sampai meraihnya
Tetapi, jangan pernah takut, teruslah bercita-cita
Ukirlah sejarah dengan pena emasmu

Seterjal apapun jalan yang kau tempuh
Tetaplah berjuang dan terjunlah ke gelanggang
Perlahan namun pasti
Jemputlah masa depan dengan penuh keyakinan

—- 05 Jumadil Akhir 1436 H —-