Category Archives: Khasanah Islam

Saling Mencintai Adalah Syarat Keimanan Seorang Muslim

Cinta, satu kata berjuta makna. Cinta, simbol keagungan sang Pencipta terhadap makhluk-Nya. Cinta, setiap insan pasti terpesona dengan keindahannya. Cinta, sebuah anugerah yang diberikan kepada setiap makhluk yang tercipta.

Agama Islam telah mengatur sedemikian rupa tentang masalah cinta. Bahkan Nabi Muhammad SAW sangat menganjurkan kepada umatnya untuk saling mencintai. Baginda juga menyatakan bahwa mencintai saudara mukmin merupakan bagian dari keimanan. Imam Bukhori dalam kitab shohihnya meriwayatkan,

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ شُعْبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَنْ حُسَيْنٍ الْمُعَلِّمِ قَالَ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu’bah dari Qotadah dari Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Dan dari Husain Al Mu’alim berkata, telah menceritakan kepada kami Qotadah dari Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri”

Baca juga : Bila Cinta Membuncah, Bagaimana Menyikapinya?

Hadits lain yang menyatakan bahwa saling mencintai merupakan bagian dari keimanan adalah hadits riwayat Imam Abu Daud no. 5193,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَفَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى أَمْرٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Dan demi Dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya. Tidaklah kalian masuk surga sehingga kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman sehingga kalian saling mencintai, tidakkah kalian ingin kuberitahukan sesuatu yang apabila kalian mengerjakannya, niscaya kalian akan saling mencintai? tebarkanlah salam diantara kalian’. ” dishahihkan oleh: Ibnu Majah (68): Muslim.

Bukti nyata seseorang mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri yaitu memperlakukan saudaranya seperti ia memperlakukan dirinya sendiri, menunaikan hak-haknya dan tidak merampasnya, saling ber-amar ma’ruf nahi munkar, saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran, menjaga aibnya, dan senantiasa menebarkan salam kepadanya. Menebarkan salam disini memiliki makna menjaga keselamatan (jiwa, harta, benda, keluarga) sang saudara.

 

Advertisements

Aktivis Dakwah Ibarat Cermin Bagi Saudaranya

Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkannya.(QS. An Nahl : 44)

            Ayat diatas mewajibkan umat Islam supaya menyampaikan isi dari Al-qur’an kepada seluruh manusia yang ada di bumi ini. Konsekuensi dari amanat ini sangat berat bagi umat muslim. Namun, seberat apapun konsekuensi yang diberikan, dakwah tetap harus berjalan sampai titik darah penghabisan.

      Barangsiapa yang menyembunyikan ilmu, maka azab yang dijanjikan teramat pedih. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad yang artinya, “Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang ditanya tentang suatu ilmu yang ia ketahui, lalu dia menyembunyikannya, maka pada hari qiyamat ia akan dikendali dengan kendali api neraka”. [HR. Tirmidzi, dan ia menghasankannya, juz 4, hal. 138, no. 2787].

Apabila umat muslim mampu menyampaikan ilmunya maka ia disebut sebagai sebaik-baik manusia. Hal tersebut diperkuat oleh hadits Nabi Muhammad yang terjemahannya sebagai berikut, “Dari Utsman (bin Affan) RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya”. [HR. Bukhari juz 6, hal. 108].

     Setelah diketahui dalil-dalil mengenai menyampaikan ilmu, seharusnya umat Islam semakin bersemangat dalam berdakwah. Metode yang dipakai dalam berdakwah tidak selalu diatas mimbar. Metode berdakwah bisa melalui kreasi/seni, tulisan/jurnalistik, dan dakwah yang paling dianjurkan adalah melalui perilaku.

     Sebagai da’i/da’iyah, sebelum berdakwah harus sudah mengetahui ilmunya terlebih dahulu dan sudah mampu mengamalkan amalan yang didakwahkannya. Apabila tidak mengamalkannya terlebih dahulu, maka akan dibenci oleh Allah swt. Sebagaimana termaktub dalam QS. Shaff ayat 3, “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”. Dengan demikian orang yang didakwahi akan semakin percaya dan bertambah yakin tentang amalan yang didakwahkan.

     Selanjutnya, da’i/da’iyah harus menyampaikan dakwah dengan cara yang baik dan penuh kasih sayang. Dalam QS. An Nahl ayat 125 disebutkan, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Berbeda dengan penyampaian dakwah melalui peperangan dan kekerasan. Memang metode perang dibolehkan namun, metode tersebut pasti memberikan kesan negatif terhadap Islam sendiri.  Perang dalam Islam juga sudah diatur secara tegas dan tidak sembarangan orang diperbolehkan mengamalkannya. Lalu bagaimana dengan perang yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mengaku muslim di Timur Tengah dengan dalih akan mendirikan kekilafahan? Perlu diketahui bersama bahwa syarat pendirian khilafah itu sangat banyak dan sangat berat.

     Selama berdakwah da’i/da’iyah harus mengatakan sebenarnya dan tidak menambah-nambahi terutama yang disampaikan adalah ayat-ayat al-qur’an dan hadits nabi. Apabila terjadi penambahan dalil dan nantinya diamalkan padahal amal tersebut tidak dituntunkan maka amalan tersebut termasuk kategori bid’ah.

Selain itu, da’i/da’iyah juga harus bersabar apabila selama menyampaikan dakwah mendapat celaan, penganiayaan, pengucilan, dan kekerasan lainnya. Cobaan yang terjadi sekarang masih lebih ringan apabila dibandingkan dengan cobaan pada masa Rosululloh saw.

     Setelah bersabar, da’i/da’iyah harus optimis dan selalu tawakal kepada Allah selama menyampaikan dakwahnya. Pada hakekatnya hidayah itu datangnya dari Allah langsung bahkan nabi Muhammad saja dijamin tidak bisa memberi hidayah kepada setiap hati manusia. Tugas umat Islam hanya menyampaikan, sebagaimana dalam QS. An Nahl ayat 82, yang artinya “Jika mereka tetap berpaling, maka sesungguhnya kewajiban yang dibebankan atasmu (Muhammad) hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.”

     Dengan demikian, aktivis dakwah adalah cermin berjalan. Mereka akan selalu menjadi suri tauladan bagi orang-orang disekitarnya. Di manapun dan kapanmun mereka berada, akan menjadi figur perubahan masyarakat. Perilaku seperti itulah yang diharapkan bisa dimiliki setiap aktivis dakwah.

Dia Diutus Untuk Mendewasakanmu

 “Orang-orang hebat akan selalu berfikir positif tentang keburukan yang menimpanya dan selalu berusaha menerima dengan lapang dada”

Dizalimi, dihina, direndahkan, diabaikan, diremehkan, dikambing hitamkan mesti pernah dialami seseorang. Kebanyakan mereka meresponnya dengan kemarahan, kedengkian, kejengkelan, dendam dan bahkan pembunuhan. Sungguh na’as apabila seorang muslim yang notabene di didik dengan Al-Qur’an dan Hadits membalas keburukan dengan keburukan pula. Padahal didalam Al-Qur’an telah dijelaskan.

Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan kebaikan. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan (kepada Allah) ” (QS. Al Mukminun: 96)

Firman diatas menekankan kepada seluruh umat muslim agar membalas keburukan dengan kebaikan. Mengalah saat dizalimi itu bukan berarti kalah, melainkan mengalah disini demi harga diri, kehormatan, dan kredibilitas seorang muslim.
Sungguh benar apabila ada pepatah mengatakan “ you may lose the battle but win the war”. Munkin kamu kalah diperang kecil, namun kamu menang dipertempuran yang maha dahsyat. Saat dizalimi lalu kita membalas dengan kezaliman pula maka itu berarti memperparah dan memperkeruh permasalahan.

Sebagai contoh, saat kita berkelahi dengan saudara kita karena suatu hal, maka jangan pernah membalas serangan yang dilancarkan darinya. Yang berarti kita wajib mengalah walaupun kebenaran berada dipihak kita. Keputusan itu harus kita ambil demi kebaikan bersama. Bahkan mengalah dalam perkelahian tersebut mampu memberikan manfaat untuk kedua belah pihak.

Yang pertama, saat mengalah secara otomatis kemenangan berada dipihak lawan. Walaupun dengan berat hati kita harus menerimanya karena kebenaran berada dipihak kita. Namun tahukah apa yang ada dibalik semua itu?. Saat mengalah atau bahkan tidak memberi perlawanan kepada lawan maka kita telah mempercepat selesainya perkelahian atau malah tidak jadi berkelahi karena kita tidak memberi perlawanan sama sekali.

Yang kedua, kita mampu menjaga kehormatan dan kredibilitas kita walaupun hak kita telah dirampas. Sehingga hal itu membuat takjub sang lawan dan akhirnya bisa berdamai kembali. Meskipun terasa amat berat menerimanya, namun semua itu akan burbuah manis diakhirnya. Saat kita dihina belum tentu orang yang menghina kita lebih baik dari pada kita. Bahkan bisa jadi mereka lebih rendah dari diri kita. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam QS. Al Hujurat: 11.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Hujurat: 11)

Nah sobat, ayat diatas merupakan benteng sekaligus tameng bagi kita agar kita tidak menghiraukan orang yang menghina kita karena belum tentu yang menghina lebih baih dari yang dihina seperti yang dijelaskan ayat diatas.
Ada sebuah kisah nyata dari penulis. Dahulu, saat penulis masih kelas VIII SMP, tepatnya saat masa remidiasi UKK kelas VIII. Saat itu hari selasa dan mata pelajarannya adalah matematika. Kerena penulis tidak remidi, maka penulis menggunakan waktu yang ada untuk mengerjakan kembali soal UKK sebelumnya. Selain itu penulis juga membantu teman yang bertanya. Sesaat kemudian, tiba-tiba ada seorang teman sebut saja si Fulan. Tanpa meminta izin dari penulis, dia langsung mengambil soal dan jawaban penulis. Karena penulis kesal dan jengkel maka penulis langsung merebut lembar soal dan jawabannya kembali. Saat itu juga si Fulan berkata “halah sok pinter, ya, ya percaya kalau kamu nggak remidi. Dicontek sedikit aja marah”. Tidak berhenti disitu. Setiap kali penulis bertemu dengan si Fulan kata-kata yang pertama kali keluar adalah “sombong”, “sok pinter”, “pelit” dan masih banyak lagi. Hal itu berlangsung tiap hari dan saat itu penulis tidak tau kapan akan berhenti. Namun penulis percaya bahwa si Fulan tadi akan berhenti menghina, maka penulis tidak membalasnya sama sekali. Walaupun dalam hati penulis sangat marah dan ingin membalasnya, namun gara-gara ada ayat yang tersebut diatas maka penulis memilih tidak menanggapinya. Ternyata hinaan tadi hanya bertahan enam hari dan setelah itu si Fulan mengakui kesalahannya. Dan kamipun juga berdamai kembali sampai lulus.

Nah sobat, sesungguhnya dizalimi, dihina, direndahkan, dan dikambing hitamkan itu menyakitkan dan pasti membuat hati terasa jengkel. Namun semua itu takkan berarti bila kita benar-benar seorang muslim sejati. Allah menciptakan segala sesuatu itu pasti ada hikmahnya begitu juga dengan yang disebutkan diatas. Namun seringkali kita hanya memandang dari segi negatifnya saja. Maka wajib untuk kita berpikir positif tentang keburukan yang menimpa atau yang diberikan Allah kepada kita. Jangan pernah berkeluh kesah terhadapnya (keburukan) dan jangan pula bersedih hati. Karena Allah telah berfirman dalam QS. AL Baqoroh: 216

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, namun ia amat baik disisi Allah. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu namun ia amat buruk disisi Allah”. (QS. Al Baqoroh: 216)
Sobat, semoga tulisan ini member manfaat dan semoga kita menjadi orang yang lebih dewasa karena selalu mendapat hinaan, celaan, dan kezaliman.

Keutamaan Menghafal dan Muraja’ah Al Quran

Abdullah bin Amru bin Ash dari Nabi Muhammad SAW beliau bersabda “(Di akhirat nanti) akan dikatakan kepada para pembaca Al Quran, bacalah, naiklah, dan tilawahkanlah sebagaimana kamu tilawahkan sewaktu di dunia, karena tempatmu (di surga) sesuai dengan ayat terakhir yang kamu baca” (HR. Abu Dawud, An Nasa’i, Tirmidzi, dan dikatakan olehnya, hadits ini tergolong hadits hasan shahih)
Berkaitan dengan keutamaan menghafal dan memuroja’ah hafalan Quran, dalam kitab Shahih Bukhori dan Muslim disebutkan, Dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata, Rosulullah bersabda, “Betapa meruginya seseorang jika sampai berkata aku lupa akan ayat ini dan ini. Padahal harusnya ia katakan terlupakan. Dan agar tidak terjadi seperti itu, muroja’ahlah hafalan kalian, karena ayat Al Quran itu lebih mudah hilang dari dalam kalbu manusia dibandingkan hewan ternak yang diikat dengan tali” 


Salah satu keutamaan dalam mengimani Al Quran adalah dengan cara menghafalnya. Kalangan sahabat dan ulama salaf terdahulu saling berlomba dalam menjaga keutamaan terhadap Al Quran salah satunya menghafal dan memuroja’ah hafalan Quran. Sebutan bagi seseorang yang memberi perhatian lebih terhadap Al Quran baik secara tilawah ataupun hafalan dengan ungkapan ‘shohibul quran’. Al Qadhi bin Iyadh pernah berkata, al muaalafah (saling mencintai) sama artinya dengan al mushahabah (saling menemani). Ungkapan tersebut sama seperti ungkapan ‘ashabul jannah’. Maknanya adalah, cintai membaca Al Quran. Sebab orang yang senantiasa membiasakan diri dengan membaca Al Quran, maka lisan akan terbiasa mengucapkannya dan ia akan lebih mudah dalam membacanya. Namun jika tidak membiasakan diri, maka lisannya akan terasa berat dan sulit kala membacanya kembali. 
Telah banyak riwayat yang menegaskan tentang keutamaan Al Quran. Salah satu riwayat tersebut adalah sebuah riwayat dari Abdullah bin Mas’ud ia menyebutkan bahwa Rosulullah bersabda “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Quran, maka ia akan mendapat satu kebaikan, dan satu kebaikan itu akan diganjar sepuluh semisalnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR. Tirmidzi, hadits ini tergolong hadits hasan shohih).

Berdasarkan hadits tersebut di atas, sebagai seorang muslim yang mengimani Al Quran sudah barang tentu akan berusaha maksimal untuk membaca Al Quran. Selain itu, bagi sebagian umat muslim yang diberi kelebihan oleh Allah berupa kekuatan hafalan maka alangkah baiknya untuk dimanfaatkan menghafal Al Quran.

Terkait menghafal Al Quran, imam Qurthubi mengatakan, “Barangsiapa yang sudah menghafal Al Quran, baik seluruhnya atau sebagiannya, maka derajatnya lebih tinggi dibandingkan orang yang belum hafal sama sekali.” Nah maka dari itu, sudah sepantasnya kita sebagi umat muslim berlomba menghafal Al Quran. 

Setelah kita menghafal Al Quran, maka keutamaan selanjutnya adalah menjaga hafalan atau muroja’ah hafalan tersebut. Hal ini ditegaskan oleh sebuah riwayat dadi Abu Musa ra, dari Nabi Muhammad saw, beliau berkata, “muroja’ahkanlah hafalan kalian, karena demi Tuhan yang menggenggam jiwaku, hafalan Quran itu lebih mudah hilang daripada unta yang diikat dengan tali.” (HR. Bukhori). Ulama salaf mengatakan, “menuju puncak gunung tinggi itu sulit, tetapi lebih sulit mempertahankan diri di atas puncak gunung”. 

Begitu juga dengan menghafal dan muroja’ah hafalan Quran, menghafal itu sulit, tetapi lebih sulit mempertahankan hafalan. Akan tetapi, kalau kita sudah mengetahui keutamaan menghafal dan muroja’ah hafalan Quran, maka akan terasa lebih ringan dan mudah bagi kita. 

Sebagai penutup, terdapat sebuah nasehat indah dari Imam Sufyan Ats Tsauri bagi penghafal Al Quran, “Wahai para penghafal Al Quran, tegakkanlah kepala kalian, karena jalan kalian sudah jelas. Bekerjalah dan jangan menjadi beban bagi manusia. Janganlah kalian menambah-nambah kekhusyukan yang sudah ada dalam hati. Bertakwalah kalian kepada Allah dan carilah pekerjaan yang baik.”
Sumber pustaka

Shohih Bukhori dan Muslim

Sarah Hadits At Tirmidzi

Kitab Fathul Bari

Badar NB. 2017. Kisah Kaum Salaf Bersama Al Quran. Jakarta : Pustaka Al Kautsar