Category Archives: Artikel

Upaya Mengembangkan Ekonomi Maritim Indonesia

Geography is density”, posisi dan kondisi suatu negara sangat menentukan maju-mundurnya suatu bangsa. (Walter Isard, 1960)

 

Indonesia adalah negara maritim dan negara kepulauan terbesar di dunia. Indonesia memiliki 17.508 pulau yang tersebar di sekitar garis Khatulistiwa. Luas wilayah Indonesia mencapai sekitar 8 juta kilo meter persegi. Wilayah perairan yang dimiliki oleh Indonesia sekitar dua pertiga dari total wilayah Indonesia dan sisanya merupakan wilayah daratan.

 

Kekayaan potensi sumber daya laut yang besar ini belum semua bisa dimanfaatkan dengan baik. Hal ini dikarenakan pembangunan nasional masih berorientasi pada daratan. Sedangkan, laut hanya dijadikan sebagai tempat eksploitasi sumber daya alam, pembuangan limbah industri, serta kegiatan ilegal lainnya yang merugikan negara maupun masyarakat.

 

Apabila menengok sejarah sebelum era penjajahan kolonial, bangsa Indonesia mampu menjadi negara maritim terbesar di dunia. Mulai abad ke-7 sampai abad 14, kerajaan Sriwijaya, Majapahit, kesultanan Islam (Samudra Pasai, Aceh Darusssalam, Jayakarta, Demak, Gresik, Cirebon, Gowa, dan Ternate) mampu menjadikan bangsa Indonesia sebagai negara maritim terbesar di dunia. Bahkan cakupan wilayah yang pernah diduduki Majapahit sampai ke Singapura, Malaysia, Thailand, Kamboja, Papua Newgini, serta sebagian India dan China. Kerajaan-kerajaan tersebut menerapkan konsep sea power, yakni menempatkan wilayah laut sebagai fokus utama pembangunan.

 

Potensi sumber daya kelautan Indonesia sangat beragam, mulai dari sektor perikanan tangkap, perikanan budidaya, industri pengolahan hasil perikanan, industri bioteknologi kelautan, pertambangan dan energi, wisata bahari, jasa maritim, dan sumber daya alam non-konvensional lainnya.

 

Potensi tersebut dapat dioptimalkan melalui beberapa strategi dan kebijakan.

  1. Kebijakan di Bidang Perikanan

Kebijakan yang dapat dilakukan di bidang perikanan di antaranya adalah optimalisasi hasil produksi perikanan tangkap serta revitalisasi dan pembangunan kawasan industri perikanan terpadu, motorisasi, peningkatan jumlah armada dan alat tangkap, serta peningkatan kapasitas kelembagaan nelayan. Kawasan budidaya perikanan tangkap juga dapat dikembangkan melalui kebijakan pengembangan kawasan budidaya laut, air payau, dan air tawar berbasis komoditi unggulan melalui ekstensifikasi, rehabilitasi, revitalisasi lahan budidaya, dan peningkatan kapasitas kelembagaan budidaya ikan.

Pengembangan Unit Perbenihan Rakyat (UPR) dan balai benih perikanan untuk menyediakan induk unggul, peningkatan dan rehabilitasi sarana prasarana, penerapan sertifikasi perbenihan serta penguatan kelembagaan UPR diharapkan mampu menyuplai benih unggul bagi nelayan. Upaya dalam pengolahan pasca panen atau hasil industri perikanan, dapat dilakukan melalui kebijakan pengembangan hasil perikanan pasca panen dan pengembangan infrastruktur.

  1. Kebijakan di Bidang pariwisata dan Ekonomi Kreatif

Kebijakan di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif ini meliputi, peningkatan tata kelola adminsitrasi dan manajemen dengan dukungan sumber daya yang tersedia, peningkatan promosi budaya, pariwisata dan ekomi kreatif, mengembangkan destinasi wisata bahari, dan meningkatkan kreatifitas masyarakat dalam mengembangkan ekonomi kreatif pariwisata.

  1. Kebijakan di Bidang Infrastruktur

Kebijakan di bidang infrastruktur wilayah dan kawasan ini ditetapkan berdasarkan prioritas pengembangan sektor-sektor produksi seperti pusat pemukiman masyarakat, sentra industri pertanian, kawasan prioritas, komoditas dan lain-lain. Kebijakan-kebijakan tersebut adalah  pengembangan sarana dan prasarana transportasi terpadu di tingkat wilayah, pembangunan sarana telekomunikasi untuk pelayanan pemerintahan dan perekonomian, pembangunan energi alternatif, dengan memanfaatkan air laut, surya, angin, dan panas bumi, dan pembangunan sarana kawasan strategis.

  1. Kebijakan di Bidang Perhubungan

Kebijakan di bidang perhubungan yang dapat diterapkan untuk mendorong ekonomi maritim antara lain adalah mengembangkan sara transportasi laut, pengembangan infrastruktur kawasan strategis secara terpadu, mengembangkan regulasi standar pelayanan angkutan dan pelayanan pada fasilitas angkutan.

 

Kebijakan-kebijakan yang telah disebutkan di atas dapat dijadikan sebagai patokan atau garis ukur dalam pengembangan perekonomian maritim Indonesia. Meskipun masih banyak kebijakan ataupun strategi lainnya yang dapat meningkatkan perekonomian maritim Indonesia, setidaknya pemangku kebijakan dapat menerapkan sedikit kebijakan yang telah disebutkan di atas.

 

Untuk menjadikan kemaritiman sebagai leading sector dalam pembangunan nasional, maka kebijakan yang dilakukan harus mempertimbangkan keterkaitan antar sektor ekonomi. Hal ini dikarenakan fokus pembangunan kemaritiman cukup luas yang terdiri dari berbagai sektor ekonomi yang melibatkan instansi perhubungan, energi, pariwisata, industri dan perdagangan, lingkungan hidup, kelautan dan perikanan.

 

 

Advertisements

Karantina Tumbuhan

Karantina

Berdasarkan Undang-undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang karantina hewan, ikan, dan tumbuhan, karantina didefinisikan sebagai tempat pengasingan dan/atau tindakan sebagai upaya pencegahan masuk dan tersebarnya hama dan penyakit atau organisme pengganggu dari luar negeri dan dari suatu area ke area lain di dalam negeri, atau keluarnya dari dalam wilayah negara Republik Indonesia. Adapun yang dimaksud karantina tumbuhan adalah tindakan pencegahan masuk dan tersebarnya Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) dari luar negeri dan dari suatu area ke area lainnya di dalam negeri atau keluarnya dari dalam wilayah negara Republik Indonesia. Area yang dimaksud merupakan daerah dalam pulau, atau pulau, atau kelompok pulau di dalam wilayah negara Republik Indonesia.

 

Dasar Hukum Karantina Tumbuhan

Dasar hukum yang digunakan dalam tindakan karantina tumbuhan yaitu:

  1. Undang-undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan Dan Tumbuhan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 52, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3482).
  2. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2002 tentang Karantina Tumbuhan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 35 dan Nomor 4196).
  3. Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 18 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tatacara Tindakan Karantina Tumbuhan Pemasukan Hasil Tumbuhan Hidup Berupa Sayuran Umbi Lapis Segar ke dalam Wilayah Negara Republik Indonesia.
  4. Permentan Nomor 9 Tahun 2009 tentang Persyaratan dan Tatacara Tindakan Karantina Tumbuhan Terhadap Pemasukan Media Pembawa (MP) OPTK ke dalam Wilayah Negara Republik Indonesia.
  5. Permentan Nomor 11 Tahun 2009 tentang Persyaratan dan Tatacara Tindakan Karantina Tumbuhan Terhadap Pengeluaran dan Pemasukan Media Pembawa (MP) OPTK dari Suatu Area ke Area Lain di dalam Wilayah Negara Republik Indonesia.
  6. Permentan Nomor 12 Tahun 2009 tentang Persyaratan dan Tatacara Tindakan Karantina Tumbuhan Terhadap Pemasukan Media Kemasan Kayu ke dalam Wilayah Negara Republik Indonesia.
  7. Keputusan Menteri Pertanian Nomor 3237 Tahun 2009 tentang Bentuk dan Jenis Dokumen Tindakan Karantina Tumbuhan dan Keamanan Panganan Segar Asal Tumbuhan
  8. Permentan Nomor 5 Tahun 2012 tentang Pemasukan dan Pengeluaran Benih Holtikultura.
  9. Permentan Nomor 4 Tahun 2015 tentang Pengawasan Keamanan Pangan Terhadap Pemasukan dan Pengeluaran Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT).
  10. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2016 tentang Jenis Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Kementrian Pertanian.

Persyaratan Umum Karantina Tumbuhan

Berdasarkan Undang-undang Nomor 16 Tahun 1992, setiap media pembawa organisme pengganggu tumbuhan karantina yang dimasukkan ke dalam wilayah negara Republik Indonesia atau dari suatu area ke area lain di dalam wilayah negara Republik Indonesia wajib :

  1. dilengkapi sertifikat kesehatan dari negara asal atau area asal dan negara transit atau area transit tumbuhan dan bagian-bagian tumbuhan, kecuali media pembawa yang tergolong benda lain;
  2. melalui tempat-tempat pemasukan dan pengeluaran yang telah ditentukan;
  3. dilaporkan dan diserahkan kepada petugas karantina di tempat-tempat pemasukan dan pengeluaran untuk keperluan tindakan karantina.

Persyaratan tersebut berlaku juga bagi media pembawa organisme pengganggu tumbuhan yang akan dikeluarkan dari wilayah negara Republik Indonesia apabila disyaratkan oleh negara tujuan.

Saling Mencintai Adalah Syarat Keimanan Seorang Muslim

Cinta, satu kata berjuta makna. Cinta, simbol keagungan sang Pencipta terhadap makhluk-Nya. Cinta, setiap insan pasti terpesona dengan keindahannya. Cinta, sebuah anugerah yang diberikan kepada setiap makhluk yang tercipta.

Agama Islam telah mengatur sedemikian rupa tentang masalah cinta. Bahkan Nabi Muhammad SAW sangat menganjurkan kepada umatnya untuk saling mencintai. Baginda juga menyatakan bahwa mencintai saudara mukmin merupakan bagian dari keimanan. Imam Bukhori dalam kitab shohihnya meriwayatkan,

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ شُعْبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَنْ حُسَيْنٍ الْمُعَلِّمِ قَالَ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu’bah dari Qotadah dari Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Dan dari Husain Al Mu’alim berkata, telah menceritakan kepada kami Qotadah dari Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri”

Baca juga : Bila Cinta Membuncah, Bagaimana Menyikapinya?

Hadits lain yang menyatakan bahwa saling mencintai merupakan bagian dari keimanan adalah hadits riwayat Imam Abu Daud no. 5193,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَفَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى أَمْرٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Dan demi Dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya. Tidaklah kalian masuk surga sehingga kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman sehingga kalian saling mencintai, tidakkah kalian ingin kuberitahukan sesuatu yang apabila kalian mengerjakannya, niscaya kalian akan saling mencintai? tebarkanlah salam diantara kalian’. ” dishahihkan oleh: Ibnu Majah (68): Muslim.

Bukti nyata seseorang mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri yaitu memperlakukan saudaranya seperti ia memperlakukan dirinya sendiri, menunaikan hak-haknya dan tidak merampasnya, saling ber-amar ma’ruf nahi munkar, saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran, menjaga aibnya, dan senantiasa menebarkan salam kepadanya. Menebarkan salam disini memiliki makna menjaga keselamatan (jiwa, harta, benda, keluarga) sang saudara.

 

Quarantine, most important for saving biodiversity in Indonesia

Badan Karantina merupakan unit pelaksana teknis pemerintah dalam mencegah masuknya penyakit baru dari luar negeri ke dalam wilayah Indonesia serta kencegah tersebarnya penyakit ke area yang tidak berpenyakit.

UPT Karantina terbagi menjadi tiga yaitu Balai Karantina Pertanian yang memiliki cakupan kerja karantina tumbuhan dan hewan, Balai karantina manusia yang merupakan lembaga di bawah naungan Kementrian Kesehatan dan memiliki cakupan kerja karantina manusia, serta Balai karantina ikan yang memiliki fokus kerja pada karantina ikan.

Tiap-tiap balai karantina memiliki prosedur kerja masing-masing sesuai undang-undang yang ada di Indonesia. Peraturan perundang-undangan yang telah disahkan merupakan landasan hukum yang harus ditaati dan dilaksanakan oleh semua petugas karantina dan pengguna jasa karantina. Petugas karantina meliputi petugas ahli, petugas administrasi, petugas fungsional, serta semua petugas yang bersangkutan terhadap pelayanan karantina. Adapun pengguna jasa karantina dapat meliputi eksportir, importir, dan atau institusi atau perorangan yang memghendaki dilakukannya karantina.

Balai karantina dapat ditemukan di tempat-tempat pemasukan dan pengeluaran media pembawa penyakit karantina. Tempat-tempat tersebut seperti pelabuhan, badan udara, dan tempat-tempat yang telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai tempat pemasukan dan pengeluaran media pembawa. Tempat pemasukan dan pengeluaran ini juga telah diatur berdasarkan undang-undang yang berlaku di Indonesia.

Pelaksanaan karantina di Indonesia sangat penting karena negara Indonesia memiliki keragaman biodiversitas yang tinggi. Apabila biodiversitas tersebut tidak dilindungi maka dapat terjadi kerusakan dan kelangkaan biodiversitas.

Aktivis Dakwah Ibarat Cermin Bagi Saudaranya

Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkannya.(QS. An Nahl : 44)

            Ayat diatas mewajibkan umat Islam supaya menyampaikan isi dari Al-qur’an kepada seluruh manusia yang ada di bumi ini. Konsekuensi dari amanat ini sangat berat bagi umat muslim. Namun, seberat apapun konsekuensi yang diberikan, dakwah tetap harus berjalan sampai titik darah penghabisan.

      Barangsiapa yang menyembunyikan ilmu, maka azab yang dijanjikan teramat pedih. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad yang artinya, “Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang ditanya tentang suatu ilmu yang ia ketahui, lalu dia menyembunyikannya, maka pada hari qiyamat ia akan dikendali dengan kendali api neraka”. [HR. Tirmidzi, dan ia menghasankannya, juz 4, hal. 138, no. 2787].

Apabila umat muslim mampu menyampaikan ilmunya maka ia disebut sebagai sebaik-baik manusia. Hal tersebut diperkuat oleh hadits Nabi Muhammad yang terjemahannya sebagai berikut, “Dari Utsman (bin Affan) RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya”. [HR. Bukhari juz 6, hal. 108].

     Setelah diketahui dalil-dalil mengenai menyampaikan ilmu, seharusnya umat Islam semakin bersemangat dalam berdakwah. Metode yang dipakai dalam berdakwah tidak selalu diatas mimbar. Metode berdakwah bisa melalui kreasi/seni, tulisan/jurnalistik, dan dakwah yang paling dianjurkan adalah melalui perilaku.

     Sebagai da’i/da’iyah, sebelum berdakwah harus sudah mengetahui ilmunya terlebih dahulu dan sudah mampu mengamalkan amalan yang didakwahkannya. Apabila tidak mengamalkannya terlebih dahulu, maka akan dibenci oleh Allah swt. Sebagaimana termaktub dalam QS. Shaff ayat 3, “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”. Dengan demikian orang yang didakwahi akan semakin percaya dan bertambah yakin tentang amalan yang didakwahkan.

     Selanjutnya, da’i/da’iyah harus menyampaikan dakwah dengan cara yang baik dan penuh kasih sayang. Dalam QS. An Nahl ayat 125 disebutkan, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Berbeda dengan penyampaian dakwah melalui peperangan dan kekerasan. Memang metode perang dibolehkan namun, metode tersebut pasti memberikan kesan negatif terhadap Islam sendiri.  Perang dalam Islam juga sudah diatur secara tegas dan tidak sembarangan orang diperbolehkan mengamalkannya. Lalu bagaimana dengan perang yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mengaku muslim di Timur Tengah dengan dalih akan mendirikan kekilafahan? Perlu diketahui bersama bahwa syarat pendirian khilafah itu sangat banyak dan sangat berat.

     Selama berdakwah da’i/da’iyah harus mengatakan sebenarnya dan tidak menambah-nambahi terutama yang disampaikan adalah ayat-ayat al-qur’an dan hadits nabi. Apabila terjadi penambahan dalil dan nantinya diamalkan padahal amal tersebut tidak dituntunkan maka amalan tersebut termasuk kategori bid’ah.

Selain itu, da’i/da’iyah juga harus bersabar apabila selama menyampaikan dakwah mendapat celaan, penganiayaan, pengucilan, dan kekerasan lainnya. Cobaan yang terjadi sekarang masih lebih ringan apabila dibandingkan dengan cobaan pada masa Rosululloh saw.

     Setelah bersabar, da’i/da’iyah harus optimis dan selalu tawakal kepada Allah selama menyampaikan dakwahnya. Pada hakekatnya hidayah itu datangnya dari Allah langsung bahkan nabi Muhammad saja dijamin tidak bisa memberi hidayah kepada setiap hati manusia. Tugas umat Islam hanya menyampaikan, sebagaimana dalam QS. An Nahl ayat 82, yang artinya “Jika mereka tetap berpaling, maka sesungguhnya kewajiban yang dibebankan atasmu (Muhammad) hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.”

     Dengan demikian, aktivis dakwah adalah cermin berjalan. Mereka akan selalu menjadi suri tauladan bagi orang-orang disekitarnya. Di manapun dan kapanmun mereka berada, akan menjadi figur perubahan masyarakat. Perilaku seperti itulah yang diharapkan bisa dimiliki setiap aktivis dakwah.

Dia Diutus Untuk Mendewasakanmu

 “Orang-orang hebat akan selalu berfikir positif tentang keburukan yang menimpanya dan selalu berusaha menerima dengan lapang dada”

Dizalimi, dihina, direndahkan, diabaikan, diremehkan, dikambing hitamkan mesti pernah dialami seseorang. Kebanyakan mereka meresponnya dengan kemarahan, kedengkian, kejengkelan, dendam dan bahkan pembunuhan. Sungguh na’as apabila seorang muslim yang notabene di didik dengan Al-Qur’an dan Hadits membalas keburukan dengan keburukan pula. Padahal didalam Al-Qur’an telah dijelaskan.

Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan kebaikan. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan (kepada Allah) ” (QS. Al Mukminun: 96)

Firman diatas menekankan kepada seluruh umat muslim agar membalas keburukan dengan kebaikan. Mengalah saat dizalimi itu bukan berarti kalah, melainkan mengalah disini demi harga diri, kehormatan, dan kredibilitas seorang muslim.
Sungguh benar apabila ada pepatah mengatakan “ you may lose the battle but win the war”. Munkin kamu kalah diperang kecil, namun kamu menang dipertempuran yang maha dahsyat. Saat dizalimi lalu kita membalas dengan kezaliman pula maka itu berarti memperparah dan memperkeruh permasalahan.

Sebagai contoh, saat kita berkelahi dengan saudara kita karena suatu hal, maka jangan pernah membalas serangan yang dilancarkan darinya. Yang berarti kita wajib mengalah walaupun kebenaran berada dipihak kita. Keputusan itu harus kita ambil demi kebaikan bersama. Bahkan mengalah dalam perkelahian tersebut mampu memberikan manfaat untuk kedua belah pihak.

Yang pertama, saat mengalah secara otomatis kemenangan berada dipihak lawan. Walaupun dengan berat hati kita harus menerimanya karena kebenaran berada dipihak kita. Namun tahukah apa yang ada dibalik semua itu?. Saat mengalah atau bahkan tidak memberi perlawanan kepada lawan maka kita telah mempercepat selesainya perkelahian atau malah tidak jadi berkelahi karena kita tidak memberi perlawanan sama sekali.

Yang kedua, kita mampu menjaga kehormatan dan kredibilitas kita walaupun hak kita telah dirampas. Sehingga hal itu membuat takjub sang lawan dan akhirnya bisa berdamai kembali. Meskipun terasa amat berat menerimanya, namun semua itu akan burbuah manis diakhirnya. Saat kita dihina belum tentu orang yang menghina kita lebih baik dari pada kita. Bahkan bisa jadi mereka lebih rendah dari diri kita. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam QS. Al Hujurat: 11.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Hujurat: 11)

Nah sobat, ayat diatas merupakan benteng sekaligus tameng bagi kita agar kita tidak menghiraukan orang yang menghina kita karena belum tentu yang menghina lebih baih dari yang dihina seperti yang dijelaskan ayat diatas.
Ada sebuah kisah nyata dari penulis. Dahulu, saat penulis masih kelas VIII SMP, tepatnya saat masa remidiasi UKK kelas VIII. Saat itu hari selasa dan mata pelajarannya adalah matematika. Kerena penulis tidak remidi, maka penulis menggunakan waktu yang ada untuk mengerjakan kembali soal UKK sebelumnya. Selain itu penulis juga membantu teman yang bertanya. Sesaat kemudian, tiba-tiba ada seorang teman sebut saja si Fulan. Tanpa meminta izin dari penulis, dia langsung mengambil soal dan jawaban penulis. Karena penulis kesal dan jengkel maka penulis langsung merebut lembar soal dan jawabannya kembali. Saat itu juga si Fulan berkata “halah sok pinter, ya, ya percaya kalau kamu nggak remidi. Dicontek sedikit aja marah”. Tidak berhenti disitu. Setiap kali penulis bertemu dengan si Fulan kata-kata yang pertama kali keluar adalah “sombong”, “sok pinter”, “pelit” dan masih banyak lagi. Hal itu berlangsung tiap hari dan saat itu penulis tidak tau kapan akan berhenti. Namun penulis percaya bahwa si Fulan tadi akan berhenti menghina, maka penulis tidak membalasnya sama sekali. Walaupun dalam hati penulis sangat marah dan ingin membalasnya, namun gara-gara ada ayat yang tersebut diatas maka penulis memilih tidak menanggapinya. Ternyata hinaan tadi hanya bertahan enam hari dan setelah itu si Fulan mengakui kesalahannya. Dan kamipun juga berdamai kembali sampai lulus.

Nah sobat, sesungguhnya dizalimi, dihina, direndahkan, dan dikambing hitamkan itu menyakitkan dan pasti membuat hati terasa jengkel. Namun semua itu takkan berarti bila kita benar-benar seorang muslim sejati. Allah menciptakan segala sesuatu itu pasti ada hikmahnya begitu juga dengan yang disebutkan diatas. Namun seringkali kita hanya memandang dari segi negatifnya saja. Maka wajib untuk kita berpikir positif tentang keburukan yang menimpa atau yang diberikan Allah kepada kita. Jangan pernah berkeluh kesah terhadapnya (keburukan) dan jangan pula bersedih hati. Karena Allah telah berfirman dalam QS. AL Baqoroh: 216

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, namun ia amat baik disisi Allah. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu namun ia amat buruk disisi Allah”. (QS. Al Baqoroh: 216)
Sobat, semoga tulisan ini member manfaat dan semoga kita menjadi orang yang lebih dewasa karena selalu mendapat hinaan, celaan, dan kezaliman.