Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkannya.(QS. An Nahl : 44)

            Ayat diatas mewajibkan umat Islam supaya menyampaikan isi dari Al-qur’an kepada seluruh manusia yang ada di bumi ini. Konsekuensi dari amanat ini sangat berat bagi umat muslim. Namun, seberat apapun konsekuensi yang diberikan, dakwah tetap harus berjalan sampai titik darah penghabisan.

      Barangsiapa yang menyembunyikan ilmu, maka azab yang dijanjikan teramat pedih. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad yang artinya, “Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang ditanya tentang suatu ilmu yang ia ketahui, lalu dia menyembunyikannya, maka pada hari qiyamat ia akan dikendali dengan kendali api neraka”. [HR. Tirmidzi, dan ia menghasankannya, juz 4, hal. 138, no. 2787].

Apabila umat muslim mampu menyampaikan ilmunya maka ia disebut sebagai sebaik-baik manusia. Hal tersebut diperkuat oleh hadits Nabi Muhammad yang terjemahannya sebagai berikut, “Dari Utsman (bin Affan) RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya”. [HR. Bukhari juz 6, hal. 108].

     Setelah diketahui dalil-dalil mengenai menyampaikan ilmu, seharusnya umat Islam semakin bersemangat dalam berdakwah. Metode yang dipakai dalam berdakwah tidak selalu diatas mimbar. Metode berdakwah bisa melalui kreasi/seni, tulisan/jurnalistik, dan dakwah yang paling dianjurkan adalah melalui perilaku.

     Sebagai da’i/da’iyah, sebelum berdakwah harus sudah mengetahui ilmunya terlebih dahulu dan sudah mampu mengamalkan amalan yang didakwahkannya. Apabila tidak mengamalkannya terlebih dahulu, maka akan dibenci oleh Allah swt. Sebagaimana termaktub dalam QS. Shaff ayat 3, “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”. Dengan demikian orang yang didakwahi akan semakin percaya dan bertambah yakin tentang amalan yang didakwahkan.

     Selanjutnya, da’i/da’iyah harus menyampaikan dakwah dengan cara yang baik dan penuh kasih sayang. Dalam QS. An Nahl ayat 125 disebutkan, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Berbeda dengan penyampaian dakwah melalui peperangan dan kekerasan. Memang metode perang dibolehkan namun, metode tersebut pasti memberikan kesan negatif terhadap Islam sendiri.  Perang dalam Islam juga sudah diatur secara tegas dan tidak sembarangan orang diperbolehkan mengamalkannya. Lalu bagaimana dengan perang yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mengaku muslim di Timur Tengah dengan dalih akan mendirikan kekilafahan? Perlu diketahui bersama bahwa syarat pendirian khilafah itu sangat banyak dan sangat berat.

     Selama berdakwah da’i/da’iyah harus mengatakan sebenarnya dan tidak menambah-nambahi terutama yang disampaikan adalah ayat-ayat al-qur’an dan hadits nabi. Apabila terjadi penambahan dalil dan nantinya diamalkan padahal amal tersebut tidak dituntunkan maka amalan tersebut termasuk kategori bid’ah.

Selain itu, da’i/da’iyah juga harus bersabar apabila selama menyampaikan dakwah mendapat celaan, penganiayaan, pengucilan, dan kekerasan lainnya. Cobaan yang terjadi sekarang masih lebih ringan apabila dibandingkan dengan cobaan pada masa Rosululloh saw.

     Setelah bersabar, da’i/da’iyah harus optimis dan selalu tawakal kepada Allah selama menyampaikan dakwahnya. Pada hakekatnya hidayah itu datangnya dari Allah langsung bahkan nabi Muhammad saja dijamin tidak bisa memberi hidayah kepada setiap hati manusia. Tugas umat Islam hanya menyampaikan, sebagaimana dalam QS. An Nahl ayat 82, yang artinya “Jika mereka tetap berpaling, maka sesungguhnya kewajiban yang dibebankan atasmu (Muhammad) hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.”

     Dengan demikian, aktivis dakwah adalah cermin berjalan. Mereka akan selalu menjadi suri tauladan bagi orang-orang disekitarnya. Di manapun dan kapanmun mereka berada, akan menjadi figur perubahan masyarakat. Perilaku seperti itulah yang diharapkan bisa dimiliki setiap aktivis dakwah.