Bila Cinta Membuncah, Bagaimana Menyikapinya?

Cinta, cinta, oh cinta. Memang tidak ada habisnya untuk membicarakan kata yang satu ini. Lebih lagi bagi muda-mudi yang lagi jatuh cinta. Kata penyanyi dalam syairnya, cinta itu berjuta rasanya. Duh rasanya manis, asem, asin, atau pahit ya? Bagi muda-mudi yang lagi jatuh cinta pasti melankolis, suka menulis yang puitis-puitis, seperti curahan hati sahabat yang satu ini. Simak ya !

Bagaimana mungkin aku mengistimewakan dirinya di relung hatiku? Sampai melupakan cinta dari Tuhanku. Aku menjadi seorang pengkhianat. Aku menyangka bahwa yang kulakukan adalah sebuah jalan dakwah, namun ternyata hanya bermuara pada dusta. Aku banyak berkholwat kepadanya hingga tak kusadari aku menyandarkan hidupku kepadanya. Aku terlanjur mengukir namanya di hatiku dan berharap bahwa dialah orang yang di pilih Allah untuk melengkapi hidupku. Namun ternyata yang terjadi tidaklah seperti dugaanku. Aku merasa kehilangan tanpa tahu apa yang telah kutemukan. Aku merasa telah menemukan tanpa tahu apa yang aku cari. Aku merasa masih terus mencari tanpa tahu apa yang telah hilang.

Seperti inilah jika anak cucu Adam di hantui virus merah jambu (cinta). Linglung dan serba salah, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Disetiap tempat selalu ada si pujaan hati, mau di kelas, kampus, rumah, jalan, bus, ingat si dia terus. Jangan di tanya berapa lama ngelamunin si dia. Wuih ..pokoknya sampai menyita waktu belajar, mengerjakan tugas tak kunjung kelar, dan menjalar pada kegiatan lain pula.

Sobat, mencintai lawan jenis itu adalah wajar dan memang begitulah seharusnya. Justru agama melarang jika kita sama sekali tidak punya rasa tertarik dengan lawan jenis, tapi ingat mencintai seseorang tidak boleh melebihi cinta kita kepada Allah dan rosul-Nya. Allah berfirman dalam al quran yang terjemahannya,

Katakanlah jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan untung ruginya, dan rumah-rumah yang kamu senangi, lebih kamu cintai daripada Allah dan rosulNya. Dan daripada jihad di jalanNya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusannya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik” (Q.S At Taubah : 24)

Bagaimana sobat muda? Memang, mencintai itu tidak di larang, tapi jangan sampai melebihi cinta kita pada Allah ya.

Nah, buat sobat yang lagi jatuh cinta, peliharalah cinta itu sebaik mungkin agar tidak terjerumus ke dalam dosa. Nah ada pesan nih buat kamu yang lagi jatuh cinta.

1. Islam menuntunkan agar menundukkan pandangan bila melihat lawan jenis yang bukan mahramnya. Sebagaimana firman Allah,
katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman. Hendaklah mereka menahan pandangannya….” (Q.S. An Nur : 30)
Nah, sobat berhati-hati ya kalau sedang bertatap muka dg lawan jenis, apalagi kalau sedang berduaan.

2. Jauhkan diri dari ketemuan, pacaran, dan berduaan. Karena dengan itu pasti akan menjurus pada pegangan tangan. Ingat sobat ! Nabi pernah bersabda “lebih baik aku di tikam dengan jarum besi yang mendidih daripada menyentuh wanita yang tidak halal bagiku” (al hadits)

Bagaimana kalau berduaan atau ikhtilat, tapi membahas tentang pelajaran, organisasi, dan sebagainya?

Nah syariat islam telah menganjurkan apabila seorang wanita ada keperluan di luar rumahnya, wajib hukumnya untuk di temani oleh mahramnya. Dan para ulama jumhur sepakat kalau ikhtilat yang di perbolehkan itu ada dua, untuk menuntut ilmu dan keperluan yang sangat mendesak yang mengharuskan seorang wanita menemui seorang pria tanpa mahramnya.

3. Bagaimana kalau untuk saling nasehat menasehati?
Sobat, amar makruf nahi mungkar itu sangat di anjurkan, tapi tetap di ingat ya, bujuk rayu dan tipu daya syaithon itu luar biasa hebatnya, bahkan pernah di gambarkan oleh nabi bahwa bisikan setan itu sangat halus dan manusia tidak dapat menyadarinya.

Sobat, tetap berhati-hati ya, mungkin kita awalnya ngasih nasehat dari al quran, kalo ayat-ayat al quran sudah habis d sampaikan, ganti hadits, terus kata-kata bijak, nah kalau udah kehabisan nasehat terus gimana?
Ya mungkin saling mengingatkan buat sholat tahajud, puasa sunah, sholat rawatib, tapi ingat ya, dari situ setan memperdaya kita, bisa jadi kita beramal, tapi ingat amal kita itu untuk Allah atau hanya untuk memenuhi nasehat sang idaman?

Nah dari situlah kita tetap waspada, bisa jadi kita salah niat, kita ibadah bukan karena ingin meraih ridho Allah, tapi meraih ridho sang idaman.

4. Pengen menikahinya, tapi diri ini belum mampu?

Sobat, menikah itu tidak sembarangan ya. Menikah itu merupakan ibadah yang sangat sakral bagi kaum muslimin, karena dengan menikah maka sempurnalah separuh agama kita. Tapi belum mampu untuk menikah?
Sebuah dalil menjelaskan,

Dan serulah kaum muda yang telah mampu menikahi wanita-wanita di antara kalian. Namun apabila mereka belum mampu, hendaklah menahan diri”

Nah kalau belum mampu, puasa dulu ya, siapin bekal sebanyak-banyaknya, sematang mungkin, mulai dari agama, ekonomi, serta semua yg perlu kematangan.

Ingat ya sobat, persiapan kita bukan dengan cara mendekati sang idaman, tapi persiapkan diri masing-masing, pantaskan diri, seperti kisah Ali dengan Fatimah, ketika Ali merasa belum mapu menikahi Fatimah, beliau mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, beliau belajar, memperdalam ilmu agama, menguatkan ekonominya, dan lain sebagainya. Perlu di contoh ya sobat, perjuangan Ali meminang Fatimah itu.

5. Nah yang terakhi nih yang perlu di perhatikan, cinta karena manusia itu sifatnya sementara, bahkan sekalipun sudah memiliki suami atau istri, pasti akan mati. Cinta yang kekal itu cinta karena Allah. Bahkan Allah sudah berjanji akan memberi naungan kepada mereka yang saling mencintai karena Allah. “Tujuh golongan yang mendapat naungan dari Allah ketika tidak ada naungan selain dari Nya…., dan dua pemuda yang saling mencintai karena Allah sehingga ia bersatu dan berpisah karena Allah…”(H.R Tirmidzi)

Apa ciri-ciri mencintai karena Allah?
Simak di artikel selanjutnya.

Nah sobat, semoga tulisan di atas bisa bermanfaat untuk semua terutama untuk penulis pribadi, karena pada dasar nya, tulisan di atas adalah untuk mengingatkan penulis agar tetap menjaga izzah dari agama Islam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s