Setelah membaca surat dari Hasan, ibunda Anisa merenung sejenak. Ia merasa tidak asing lagi dengan nama Hasan.

Apa mungkin yang namanya Hasan itu, yang datang dua hari lalu??
Saat Anisa sedang bekerja sift malam?
Ah tidak mungkinlah dia tau alamat rumah kami kalau di dalam surat dia menyatakan diri tidak mengenal Anisa melainkan hanya sedikit.
Sungguhpun kalau demikian, akhlak Hasan sangat memesona, aku tertarik dengannya. Baiklah Hasan kalau kamu ingin meminang putriku, aku persilahkan engkau membawanya

Batin Ibunda Anisa. Beliau merundukkan kepalanya. Membuat Anisa penasaran.

“Bunda tidak apa-apa kan?” tanya Anisa.

“Ehm.. Tidak apa-apa kok.” Jawab ibundanya. Gugup.

“Tapi kok bunda seperti menyimpan sesuatu dari Anisa?” Anisa semakin penasaran. Menyelidik.

“Ayolah bunda, terus teranglah, aku kan udah mengatakan apa adanya.” Desak Anisa.

Sekarang giliran Anisa yang memelas meminta penjelasan dari ibundanya. Memang, kalau sudah bercerita, Anisa juga akan menuntut lawan bicaranya untuk bercerita juga. Kali ini ibundanya sepertinya belum bisa berterus terang kepada putri tersayangnya.

“Maafkan bunda sayang, bunda belum bisa menceritakannya kepadamu. InsyaAllah suatu hari kamu akan tau.” jawab bunda Anisa. Sambil mengusap jilbab Anisa.

“Yah bunda pasti begitu kalau di suruh bercertia gantian.” ketus Anisa. Cemberut. Kecewa.

“Bunda tidak ingin menyakiti persaanmu sayang. Bunda perlu waktu yang tepat untuk menceritakannya kepadamu. Percayalah bunda tidak pernah membohongimu.” Kata bunda menasehati.

Anisa hanya diam. Menatap dalam mata ibundanya yang juga menatapnya. Anisa yakin pasti ada suatu hal besar yang disembunyikan oleh ibundanya. Pasti abahnya juga terlibat dalam urusan ini kalau ibundanya harus menunggu waktu yang tepat untuk bercerita.

“Baiklah bunda, Anisa akan menunggu waktu yang tepat, agar abah dan bunda mau menceritakan semua kepada Anisa.” Akhirnya Anisa mengalah. Beranjak dari tempat tidurnya. Kembali ke jendela memandang dedaunan yang bergoyang tertiup angin.

“Maafkan bunda sayang. Bunda janji dalam waktu dekat bunda akan bercerita.” bunda Anisa agak menyesal dengan keputusannya. Tapi ia benar-benar belum bisa bercerita tentang Hasan sekarang.

“Bunda pergi dulu ya sayang. Ada pekerjaan yang belum bunda selesaikan.” tambah bunda.

Ibunda Anisa keluar kamar, membiarkan putrinya termenung di bawah jendela. Anisa yang disapa juga tidak memperhatikan ucapan bundanya. Larut dalam lamunan kembali.

— Bersambung —

Advertisements