Saling Mencintai Adalah Syarat Keimanan Seorang Muslim

Cinta, satu kata berjuta makna. Cinta, simbol keagungan sang Pencipta terhadap makhluk-Nya. Cinta, setiap insan pasti terpesona dengan keindahannya. Cinta, sebuah anugerah yang diberikan kepada setiap makhluk yang tercipta.

Agama Islam telah mengatur sedemikian rupa tentang masalah cinta. Bahkan Nabi Muhammad SAW sangat menganjurkan kepada umatnya untuk saling mencintai. Baginda juga menyatakan bahwa mencintai saudara mukmin merupakan bagian dari keimanan. Imam Bukhori dalam kitab shohihnya meriwayatkan,

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ شُعْبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَنْ حُسَيْنٍ الْمُعَلِّمِ قَالَ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu’bah dari Qotadah dari Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Dan dari Husain Al Mu’alim berkata, telah menceritakan kepada kami Qotadah dari Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri”

Baca juga : Bila Cinta Membuncah, Bagaimana Menyikapinya?

Hadits lain yang menyatakan bahwa saling mencintai merupakan bagian dari keimanan adalah hadits riwayat Imam Abu Daud no. 5193,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَفَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى أَمْرٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Dan demi Dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya. Tidaklah kalian masuk surga sehingga kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman sehingga kalian saling mencintai, tidakkah kalian ingin kuberitahukan sesuatu yang apabila kalian mengerjakannya, niscaya kalian akan saling mencintai? tebarkanlah salam diantara kalian’. ” dishahihkan oleh: Ibnu Majah (68): Muslim.

Bukti nyata seseorang mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri yaitu memperlakukan saudaranya seperti ia memperlakukan dirinya sendiri, menunaikan hak-haknya dan tidak merampasnya, saling ber-amar ma’ruf nahi munkar, saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran, menjaga aibnya, dan senantiasa menebarkan salam kepadanya. Menebarkan salam disini memiliki makna menjaga keselamatan (jiwa, harta, benda, keluarga) sang saudara.

 

Advertisements

Quarantine, most important for saving biodiversity in Indonesia

Badan Karantina merupakan unit pelaksana teknis pemerintah dalam mencegah masuknya penyakit baru dari luar negeri ke dalam wilayah Indonesia serta kencegah tersebarnya penyakit ke area yang tidak berpenyakit.

UPT Karantina terbagi menjadi tiga yaitu Balai Karantina Pertanian yang memiliki cakupan kerja karantina tumbuhan dan hewan, Balai karantina manusia yang merupakan lembaga di bawah naungan Kementrian Kesehatan dan memiliki cakupan kerja karantina manusia, serta Balai karantina ikan yang memiliki fokus kerja pada karantina ikan.

Tiap-tiap balai karantina memiliki prosedur kerja masing-masing sesuai undang-undang yang ada di Indonesia. Peraturan perundang-undangan yang telah disahkan merupakan landasan hukum yang harus ditaati dan dilaksanakan oleh semua petugas karantina dan pengguna jasa karantina. Petugas karantina meliputi petugas ahli, petugas administrasi, petugas fungsional, serta semua petugas yang bersangkutan terhadap pelayanan karantina. Adapun pengguna jasa karantina dapat meliputi eksportir, importir, dan atau institusi atau perorangan yang memghendaki dilakukannya karantina.

Balai karantina dapat ditemukan di tempat-tempat pemasukan dan pengeluaran media pembawa penyakit karantina. Tempat-tempat tersebut seperti pelabuhan, badan udara, dan tempat-tempat yang telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai tempat pemasukan dan pengeluaran media pembawa. Tempat pemasukan dan pengeluaran ini juga telah diatur berdasarkan undang-undang yang berlaku di Indonesia.

Pelaksanaan karantina di Indonesia sangat penting karena negara Indonesia memiliki keragaman biodiversitas yang tinggi. Apabila biodiversitas tersebut tidak dilindungi maka dapat terjadi kerusakan dan kelangkaan biodiversitas.

Aktivis Dakwah Ibarat Cermin Bagi Saudaranya

Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkannya.(QS. An Nahl : 44)

            Ayat diatas mewajibkan umat Islam supaya menyampaikan isi dari Al-qur’an kepada seluruh manusia yang ada di bumi ini. Konsekuensi dari amanat ini sangat berat bagi umat muslim. Namun, seberat apapun konsekuensi yang diberikan, dakwah tetap harus berjalan sampai titik darah penghabisan.

      Barangsiapa yang menyembunyikan ilmu, maka azab yang dijanjikan teramat pedih. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad yang artinya, “Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang ditanya tentang suatu ilmu yang ia ketahui, lalu dia menyembunyikannya, maka pada hari qiyamat ia akan dikendali dengan kendali api neraka”. [HR. Tirmidzi, dan ia menghasankannya, juz 4, hal. 138, no. 2787].

Apabila umat muslim mampu menyampaikan ilmunya maka ia disebut sebagai sebaik-baik manusia. Hal tersebut diperkuat oleh hadits Nabi Muhammad yang terjemahannya sebagai berikut, “Dari Utsman (bin Affan) RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya”. [HR. Bukhari juz 6, hal. 108].

     Setelah diketahui dalil-dalil mengenai menyampaikan ilmu, seharusnya umat Islam semakin bersemangat dalam berdakwah. Metode yang dipakai dalam berdakwah tidak selalu diatas mimbar. Metode berdakwah bisa melalui kreasi/seni, tulisan/jurnalistik, dan dakwah yang paling dianjurkan adalah melalui perilaku.

     Sebagai da’i/da’iyah, sebelum berdakwah harus sudah mengetahui ilmunya terlebih dahulu dan sudah mampu mengamalkan amalan yang didakwahkannya. Apabila tidak mengamalkannya terlebih dahulu, maka akan dibenci oleh Allah swt. Sebagaimana termaktub dalam QS. Shaff ayat 3, “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”. Dengan demikian orang yang didakwahi akan semakin percaya dan bertambah yakin tentang amalan yang didakwahkan.

     Selanjutnya, da’i/da’iyah harus menyampaikan dakwah dengan cara yang baik dan penuh kasih sayang. Dalam QS. An Nahl ayat 125 disebutkan, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Berbeda dengan penyampaian dakwah melalui peperangan dan kekerasan. Memang metode perang dibolehkan namun, metode tersebut pasti memberikan kesan negatif terhadap Islam sendiri.  Perang dalam Islam juga sudah diatur secara tegas dan tidak sembarangan orang diperbolehkan mengamalkannya. Lalu bagaimana dengan perang yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mengaku muslim di Timur Tengah dengan dalih akan mendirikan kekilafahan? Perlu diketahui bersama bahwa syarat pendirian khilafah itu sangat banyak dan sangat berat.

     Selama berdakwah da’i/da’iyah harus mengatakan sebenarnya dan tidak menambah-nambahi terutama yang disampaikan adalah ayat-ayat al-qur’an dan hadits nabi. Apabila terjadi penambahan dalil dan nantinya diamalkan padahal amal tersebut tidak dituntunkan maka amalan tersebut termasuk kategori bid’ah.

Selain itu, da’i/da’iyah juga harus bersabar apabila selama menyampaikan dakwah mendapat celaan, penganiayaan, pengucilan, dan kekerasan lainnya. Cobaan yang terjadi sekarang masih lebih ringan apabila dibandingkan dengan cobaan pada masa Rosululloh saw.

     Setelah bersabar, da’i/da’iyah harus optimis dan selalu tawakal kepada Allah selama menyampaikan dakwahnya. Pada hakekatnya hidayah itu datangnya dari Allah langsung bahkan nabi Muhammad saja dijamin tidak bisa memberi hidayah kepada setiap hati manusia. Tugas umat Islam hanya menyampaikan, sebagaimana dalam QS. An Nahl ayat 82, yang artinya “Jika mereka tetap berpaling, maka sesungguhnya kewajiban yang dibebankan atasmu (Muhammad) hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.”

     Dengan demikian, aktivis dakwah adalah cermin berjalan. Mereka akan selalu menjadi suri tauladan bagi orang-orang disekitarnya. Di manapun dan kapanmun mereka berada, akan menjadi figur perubahan masyarakat. Perilaku seperti itulah yang diharapkan bisa dimiliki setiap aktivis dakwah.

Rinduku Padamu

Hari ini, Jumat 13 Syawal 1438 H di tanah rantau yang menyejukkan, tanah yang dihiasi dengan pepohonan rindang dan diselimuti berbagai jenis hewan yang mengembara. Tanah tempat berkumpulnya para pencari ilmu dari berbagai penjuru dunia. 

Disini aku merindukanmu, merindukan untaian kisah yang menggetarkan jiwa. Sunggu diri ini sangat merindu. Ketika aku mengingatmu, engkau menjadi penghiburku.

Namun, sekarang kecintaanku padamu telah direbut. Yang menjadikan rindu ini semakin menggebu. 

Duhai engkau yang akan menjadi penjaminku di hari yang tidak ada jaminan selain jaminan dari-Nya. Sungguh aku merindukanmu. Sekian lama aku tak menyentuhmu. Sekian lama aku tak mencumbumu. 

Aku merindukan waktu ketika kita hanya berdua. Saling menentramkan. Saling memberi ketenangan. Ketika aku mempunyai masalah, engkau pasti siap memberikan jawaban dan solusinya. 

Bila Cinta Membuncah, Bagaimana Menyikapinya?

Cinta, cinta, oh cinta. Memang tidak ada habisnya untuk membicarakan kata yang satu ini. Lebih lagi bagi muda-mudi yang lagi jatuh cinta. Kata penyanyi dalam syairnya, cinta itu berjuta rasanya. Duh rasanya manis, asem, asin, atau pahit ya? Bagi muda-mudi yang lagi jatuh cinta pasti melankolis, suka menulis yang puitis-puitis, seperti curahan hati sahabat yang satu ini. Simak ya !

Bagaimana mungkin aku mengistimewakan dirinya di relung hatiku? Sampai melupakan cinta dari Tuhanku. Aku menjadi seorang pengkhianat. Aku menyangka bahwa yang kulakukan adalah sebuah jalan dakwah, namun ternyata hanya bermuara pada dusta. Aku banyak berkholwat kepadanya hingga tak kusadari aku menyandarkan hidupku kepadanya. Aku terlanjur mengukir namanya di hatiku dan berharap bahwa dialah orang yang di pilih Allah untuk melengkapi hidupku. Namun ternyata yang terjadi tidaklah seperti dugaanku. Aku merasa kehilangan tanpa tahu apa yang telah kutemukan. Aku merasa telah menemukan tanpa tahu apa yang aku cari. Aku merasa masih terus mencari tanpa tahu apa yang telah hilang.

Seperti inilah jika anak cucu Adam di hantui virus merah jambu (cinta). Linglung dan serba salah, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Disetiap tempat selalu ada si pujaan hati, mau di kelas, kampus, rumah, jalan, bus, ingat si dia terus. Jangan di tanya berapa lama ngelamunin si dia. Wuih ..pokoknya sampai menyita waktu belajar, mengerjakan tugas tak kunjung kelar, dan menjalar pada kegiatan lain pula.

Sobat, mencintai lawan jenis itu adalah wajar dan memang begitulah seharusnya. Justru agama melarang jika kita sama sekali tidak punya rasa tertarik dengan lawan jenis, tapi ingat mencintai seseorang tidak boleh melebihi cinta kita kepada Allah dan rosul-Nya. Allah berfirman dalam al quran yang terjemahannya,

Katakanlah jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan untung ruginya, dan rumah-rumah yang kamu senangi, lebih kamu cintai daripada Allah dan rosulNya. Dan daripada jihad di jalanNya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusannya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik” (Q.S At Taubah : 24)

Bagaimana sobat muda? Memang, mencintai itu tidak di larang, tapi jangan sampai melebihi cinta kita pada Allah ya.

Nah, buat sobat yang lagi jatuh cinta, peliharalah cinta itu sebaik mungkin agar tidak terjerumus ke dalam dosa. Nah ada pesan nih buat kamu yang lagi jatuh cinta.

1. Islam menuntunkan agar menundukkan pandangan bila melihat lawan jenis yang bukan mahramnya. Sebagaimana firman Allah,
katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman. Hendaklah mereka menahan pandangannya….” (Q.S. An Nur : 30)
Nah, sobat berhati-hati ya kalau sedang bertatap muka dg lawan jenis, apalagi kalau sedang berduaan.

2. Jauhkan diri dari ketemuan, pacaran, dan berduaan. Karena dengan itu pasti akan menjurus pada pegangan tangan. Ingat sobat ! Nabi pernah bersabda “lebih baik aku di tikam dengan jarum besi yang mendidih daripada menyentuh wanita yang tidak halal bagiku” (al hadits)

Bagaimana kalau berduaan atau ikhtilat, tapi membahas tentang pelajaran, organisasi, dan sebagainya?

Nah syariat islam telah menganjurkan apabila seorang wanita ada keperluan di luar rumahnya, wajib hukumnya untuk di temani oleh mahramnya. Dan para ulama jumhur sepakat kalau ikhtilat yang di perbolehkan itu ada dua, untuk menuntut ilmu dan keperluan yang sangat mendesak yang mengharuskan seorang wanita menemui seorang pria tanpa mahramnya.

3. Bagaimana kalau untuk saling nasehat menasehati?
Sobat, amar makruf nahi mungkar itu sangat di anjurkan, tapi tetap di ingat ya, bujuk rayu dan tipu daya syaithon itu luar biasa hebatnya, bahkan pernah di gambarkan oleh nabi bahwa bisikan setan itu sangat halus dan manusia tidak dapat menyadarinya.

Sobat, tetap berhati-hati ya, mungkin kita awalnya ngasih nasehat dari al quran, kalo ayat-ayat al quran sudah habis d sampaikan, ganti hadits, terus kata-kata bijak, nah kalau udah kehabisan nasehat terus gimana?
Ya mungkin saling mengingatkan buat sholat tahajud, puasa sunah, sholat rawatib, tapi ingat ya, dari situ setan memperdaya kita, bisa jadi kita beramal, tapi ingat amal kita itu untuk Allah atau hanya untuk memenuhi nasehat sang idaman?

Nah dari situlah kita tetap waspada, bisa jadi kita salah niat, kita ibadah bukan karena ingin meraih ridho Allah, tapi meraih ridho sang idaman.

4. Pengen menikahinya, tapi diri ini belum mampu?

Sobat, menikah itu tidak sembarangan ya. Menikah itu merupakan ibadah yang sangat sakral bagi kaum muslimin, karena dengan menikah maka sempurnalah separuh agama kita. Tapi belum mampu untuk menikah?
Sebuah dalil menjelaskan,

Dan serulah kaum muda yang telah mampu menikahi wanita-wanita di antara kalian. Namun apabila mereka belum mampu, hendaklah menahan diri”

Nah kalau belum mampu, puasa dulu ya, siapin bekal sebanyak-banyaknya, sematang mungkin, mulai dari agama, ekonomi, serta semua yg perlu kematangan.

Ingat ya sobat, persiapan kita bukan dengan cara mendekati sang idaman, tapi persiapkan diri masing-masing, pantaskan diri, seperti kisah Ali dengan Fatimah, ketika Ali merasa belum mapu menikahi Fatimah, beliau mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, beliau belajar, memperdalam ilmu agama, menguatkan ekonominya, dan lain sebagainya. Perlu di contoh ya sobat, perjuangan Ali meminang Fatimah itu.

5. Nah yang terakhi nih yang perlu di perhatikan, cinta karena manusia itu sifatnya sementara, bahkan sekalipun sudah memiliki suami atau istri, pasti akan mati. Cinta yang kekal itu cinta karena Allah. Bahkan Allah sudah berjanji akan memberi naungan kepada mereka yang saling mencintai karena Allah. “Tujuh golongan yang mendapat naungan dari Allah ketika tidak ada naungan selain dari Nya…., dan dua pemuda yang saling mencintai karena Allah sehingga ia bersatu dan berpisah karena Allah…”(H.R Tirmidzi)

Apa ciri-ciri mencintai karena Allah?
Simak di artikel selanjutnya.

Nah sobat, semoga tulisan di atas bisa bermanfaat untuk semua terutama untuk penulis pribadi, karena pada dasar nya, tulisan di atas adalah untuk mengingatkan penulis agar tetap menjaga izzah dari agama Islam

Secercah Harapan yang Terpendam

Anisa semakin nyaman menikmati pemandangan daun yang bergoyang. Ia begitu kagum dengan yang dia lihat. Dia semakin terpesona saat sepasang burung kutilang tiba-tiba hinggap di ranting pohon. Burung-burung itu bernyanyi sahut-sahutan. Tidak hanya itu, sang burungpun juga kejar-kejaran.

Sepertinya kedua burung itu sepasang kekasih. Wah romantisnya. Andaikata aku bisa seperti itu. Tapi sama siapa ya??

Batin Anisa dalam hati. Dia tertawa. Menyadari bahwa sekarang dia belum punya pasangan seperti burung kutilang itu.

Setelah sekian lama berada di bawah jendela, akhirnya Anisa pun bosan. Diapun baru sadar kalau sekarang sudah jam sembilan pagi. Bimbang antara mau masuk kerja atau berdiam diri saja di rumah. Agaknya ada sedikit rasa penyesalan dalam hatinya.

“Kenapa juga tadi tidak berangkat kerja. Tanpa alasan lagi. Huh.” Sesal Anisa. Kesal.
“Terus sekarang mau ngapain coba? Oh iya, aku kan belum menanyakan ke Aisyah bagaimana Hasan bisa menitipkan surat kepadanya, mungkin Aisyah tau dari mana Hasan mengenalku.” tambahnya.

Saat Anisa menerima surat titipan dari Hasan, dia tidak bertanya-tanya darimana Hasan tau kalau Aisyah teman dekatnya. Anisa pun memutuskan untuk menghubungi Aisyah. Teman dekat, sekaligus teman kerja satu divisi di kantor.

“Assalamu’alaikum. Aisyah, bagaimana kabarmu hari ini? Hari ini aku tidak masuk kerja. Oh iya bagaimana kondisi di kantor? Ada kabar apa aja?” tulis Anisa dalam pesan singkat.

Anisa takut kalau dia telepon Aisyah, bakal mengganggu pekerjaannya. Akhirnya di memutuskan sms saja. SMS telah di kirim. Delivered. Tinggal menunggu balasan dari Aisyah.

Klunting…
Suara nada dering handphone Anisa saat menerima pesan. Dibukanya kontak pesan masuk. Kontaknya tertulis Aisyah. Ah ternyata pesan yang masuk balasan dari Aisyah. Dibukalah isi pesan itu.

“Wa’alaikumussalam warahmatullah. Alhamdulillah Allah masih sangat sayang kepadaku. Buktinya Allah memberiku sakit demam, sehingga aku tidak masuk kerja dan aku bisa banyak mengingat-Nya. Subhanallah Anisa, kok kamu tidak masuk kerja? Kamu sakit juga ya?” Anisa kaget membaca isi SMS dari Aisyah. Anisa pun memutuskan untuk menghubungi Aisyah lewat telepon. Menanyakan apakah Aisyah di rumah dan ada yang menjaganya atau tidak. Menanyakan apakah sudah minum obat atau belum. Anisa panik.

Di pencetnya tombol telepon.
Tuutt..tuuttt..ttuuuttt..
Terhubung. Harap-harap cemas Anisa menunggu teleponnya di angkat oleh orang yang ada di seberang sana.

Klik…
Hallo, Assalamualaikum, ada apa Anisa, kok telepon?” suara Aisyah di seberang sana.

“Waalaikumussalam warahmatullah. Aisyah, bagaimana kabarmu? Sekarang kamu di rumah atau di rumah sakit? Udah minum obat belum? Kok nggak kabar-kabar sih kalau sakit??” berondong Anisa. Dia sangat cemas dengan kondisi Aisyah. Anisa tidak ingin sahabatnya ini kenapa-napa. Anisa juga sudah menganggap Aisyah seperti saudara kandungnya sendiri.

“Alhamdulillah Anisa, saya di rumah. Sendirian, umi dan abi sedang keluar rumah. Sudah minum obat kok, kamu nggak perlu cemas dan khawatir seperti itu. Oke.” yang di seberang sana malah tersenyum menanggapi pertanyaan Anisa. Aisyah tidak sadar kalau lawan bicaranya sangat khawatir dan mencemaskan keadaannya.

“Ih kok kamu tenang-tenang aja sih. Ya sudah aku ke rumahmu sekarang ya. Kamu jangan kemana-mana. Awas nanti kalau kamu tidak ada di rumah.” Anisa sedikit sangsi dengan jawaban Aisyah. Mendengar kalau Aisyah di rumah sendirian, Anisa memutuskan untuk pergi ke rumahnya.

“Iya lah, kalau berbicara itu harus tenang sayang. Ya sudah kalau mau ke rumah, datang aja, aku nggak bakal pergi. Aku aja sakit, memanganya kalau orang sakit mau pergi kemana?” jawab Aisyah sambil bergurau.

“Hmm oke tunggu ya. Siap meluncur. Tapi aku mandi dulu ya. Hehe” jawab Anisa menenangkan diri.

“Iya sayang, mandi yang bersih ya. Haha” jawab Aisyah menggoda.
“Sudah ya, buruan mandi, baunya ke cium sampai sini nih. Haha.” tambah Aisyah. Terbahak.

Tuutt..tutt..tutt ..tutt

Tiba-tiba percakapan terputus. Ternyara Aisyah yang memutus pembicaraan lewat telepon. Daripada nanti bakal dapat omelan dari Anisa karena gurauan nya, ia memutus telepon. Tanpa salam.

Sementara itu, Anisa yang berada di seberang kesal dengan perbuatan sahabat karibnya ini.
“Ih ini orang kenapa juga, baru sakit masih saja menggoda. Dasar Aisyah. Ah sudahlah mau mandi keburu siang.” kata Anisa. Dia lempar handphone nya ke kasur begitu saja. Langsung beranjak ke kamar mandi.

— Bersambung —

Mengikhlaskan Yang Tercinta

Setelah membaca surat dari Hasan, ibunda Anisa merenung sejenak. Ia merasa tidak asing lagi dengan nama Hasan.

Apa mungkin yang namanya Hasan itu, yang datang dua hari lalu??
Saat Anisa sedang bekerja sift malam?
Ah tidak mungkinlah dia tau alamat rumah kami kalau di dalam surat dia menyatakan diri tidak mengenal Anisa melainkan hanya sedikit.
Sungguhpun kalau demikian, akhlak Hasan sangat memesona, aku tertarik dengannya. Baiklah Hasan kalau kamu ingin meminang putriku, aku persilahkan engkau membawanya

Batin Ibunda Anisa. Beliau merundukkan kepalanya. Membuat Anisa penasaran.

“Bunda tidak apa-apa kan?” tanya Anisa.

“Ehm.. Tidak apa-apa kok.” Jawab ibundanya. Gugup.

“Tapi kok bunda seperti menyimpan sesuatu dari Anisa?” Anisa semakin penasaran. Menyelidik.

“Ayolah bunda, terus teranglah, aku kan udah mengatakan apa adanya.” Desak Anisa.

Sekarang giliran Anisa yang memelas meminta penjelasan dari ibundanya. Memang, kalau sudah bercerita, Anisa juga akan menuntut lawan bicaranya untuk bercerita juga. Kali ini ibundanya sepertinya belum bisa berterus terang kepada putri tersayangnya.

“Maafkan bunda sayang, bunda belum bisa menceritakannya kepadamu. InsyaAllah suatu hari kamu akan tau.” jawab bunda Anisa. Sambil mengusap jilbab Anisa.

“Yah bunda pasti begitu kalau di suruh bercertia gantian.” ketus Anisa. Cemberut. Kecewa.

“Bunda tidak ingin menyakiti persaanmu sayang. Bunda perlu waktu yang tepat untuk menceritakannya kepadamu. Percayalah bunda tidak pernah membohongimu.” Kata bunda menasehati.

Anisa hanya diam. Menatap dalam mata ibundanya yang juga menatapnya. Anisa yakin pasti ada suatu hal besar yang disembunyikan oleh ibundanya. Pasti abahnya juga terlibat dalam urusan ini kalau ibundanya harus menunggu waktu yang tepat untuk bercerita.

“Baiklah bunda, Anisa akan menunggu waktu yang tepat, agar abah dan bunda mau menceritakan semua kepada Anisa.” Akhirnya Anisa mengalah. Beranjak dari tempat tidurnya. Kembali ke jendela memandang dedaunan yang bergoyang tertiup angin.

“Maafkan bunda sayang. Bunda janji dalam waktu dekat bunda akan bercerita.” bunda Anisa agak menyesal dengan keputusannya. Tapi ia benar-benar belum bisa bercerita tentang Hasan sekarang.

“Bunda pergi dulu ya sayang. Ada pekerjaan yang belum bunda selesaikan.” tambah bunda.

Ibunda Anisa keluar kamar, membiarkan putrinya termenung di bawah jendela. Anisa yang disapa juga tidak memperhatikan ucapan bundanya. Larut dalam lamunan kembali.

— Bersambung —