Sang Perindu Matahari

“setiap orang berhak bermimpi, setinggi apapun mimpi itu, sebesar apapun mimpi itu, karena tidak pernah ada kata mati bagi sebuah mimpi” (Kaka HY)

Hidup menjadi anak yatim yang ditinggal seorang ayah memang sangat berat bagi seorang anak. Entah karena ayanhya meninggal atau karena perceraian. Itu sangat berat rasanya, apalagi bagi seorang cewek sungguh sangat menyakitkan dan menyedihkan.

Mila kecil adalah anak yang sangat aktif dan pandai. Dia punya hobby menyanyi dan bercita-cita menjadi penyanyi tenar. Pembuktiannya adalah Mila selalu mengikuti lomba menyanyi dan dia-lah juara satunya. Mila kecil jaga jago bermain harmonika. Setiap kali ia memainkan harmonika miliknya, maka seluruh orang yang mendengarnya pasti terhipnotis dengan suaranya yang teramat merdu.

Namun semua cita-cita Mila kandas bahkan roboh tak berbekas setelah kejadian menyakitkan itu. Saat itu Mila masih berumur lima tahun. Saat itu ia sedang kontes diatas panggung mengikuti final lomba menyanyi. Tepat saat Mila baru menyanyikan setengah lagunya dan para penoonton sudah terhipnotis, tiba-tiba seorang wanita setengah baya memasuki panggung dan merebut mic yang dia bawa, lalu berkata sangat kasar. Ternyata wanita itu adalah istri ayahnya yang pertama. Diatas panggung, wanita itu memaki-maki ibu Mila dengan teramat kasar dan teramat menyayat hati. Wanita itu mengatakan kalau ibunya Mila adalah wanita simpanan ayahnya dan serenteng cacian yang tak patut didengarkan didepan khalayak. Akhirnya semua penontonpu mencibir ibu dan bapaknya Mila. Dengan cibiran yang bisa dimengerti oleh Mila.

Meski Mila masih sangat belia untuk mengetahui makna setiap kejadian didepan matanya, namun Mila mampu menangkapnya dengan baik. Ia menangis dan menghambur kearah ibunya. Mila terisak dan menangis diatas pangkuan ibunya. Mila sangat takut dan sangat khawatir. Tubuhnya gemetar akhirnya ia tak sadarkan diri.
Setelah kejadian itu, Mila dan ibunya hidup sendiri. Karena khawatir dikejar-kejar lagi oleh wanita itu, maka Mila dan ibunya pindah dan merantau ke Jogjakarta. Saat itu Mila sudah berumur 16 tahun dan dia kelas dua SMA. Di Jogja, ia dan ibunya hidup tentram dengan bertetanggakan seorang mahasiswa yang berasal dari Kalimanta dan kuliah di Jogja. Namanya adalah Riki. Ia teramat baik terhadap Mila dan ibunya. Karena kebaikannya itu, ibu Mila sering mengantarkan sarapan kekontrakannya.

Masa awal pindah ke Jogja, Mila masih menjadi cewek pendiam dan masih mengurung diri dari keramaian masa. Entah disekolah, dijalan, bahkan dirumah Mila tak mau bicara sedikitpun kepada orang lain selain ibunya. Sebagai tetangga dekat, Riki berusaha mati-matian memmulai pembicaraan dengan Mila, namun setiap kali ia coba berbicara dengan Mila hasilnya adalah dicuekin dan diabaikan. Dengan kesabaran yang berlipat-lipat, akhirnya Riki mampu mengajaknya terbuka dengan dunia luar.
Kala itu Mila sedang memainkan harmonika dengan lagu yang mengingatkan dengan kejadian masa kecilnya. Sejurus kemudian Mila muntah-muntah dan ia keluar rumah. Seketika Riki yang sedang bermain gitar di teras rumah langsung mendekatinya dan mengajaknya berterusterang terhadap apa yang sedang terjadi. Dengan ragu Mila menceritakan semua yang dialaminya. Termasuk apa yang ia suka manakala ia sedang bersedih. Mila sangat suka dengan terik matahari. Maka Riki pun mengajaknya kelapangan untuk melampiaskan kesedihan Mila. Mila sangat senang sekali.

Meskipun Riki sudah mengetahui semua tentang Mila dan keluarganya lewat cerita ibu Mila, namun kejadian itu sangat berarti baginya dan Mila. Karena setelah kejadian itu, Mila mampu berteman dengan dunia luar. Semua Mila buktikan dengan diikutinya kontes menyanyi yang diselenggarakan OSIS untuk memperingati hari jadi sekolahnya. Demi mengisi waktu luang dan demi meringankan beban ibunya, Mila juga bekerja sebagai penjaga toko kaset VCD milik Adit teman Riki. Walaupun pada awalnya sempat ditentang oleh ibunya, berkat kehadiran Riki ibunya menyetujui kalau Mila bekerja part time.

Waktu bergulir dengan cepat. Mila juga menikmati sekolah dan pekerjaan part time sebagai karyawan toko VCD milik Adit. Seiring berjalannya waktu, Mila mulai merasakan perasaan tak enak dalam hati. Entah perasaan cinta atau apa, Mila tidak tahu. Kalaupun itu adalah rasa cinta kepada Riki, Mila tak mampu mengungkapkannya. Ia takut kalau semua akan menghancurkan masa depan dia dan ibunya.

Sekian lama Mila dan ibunya mengalami lika-liku kesedihan dalam hidup semua terbayar setelah Riki mempertemukan Mila dengan ayahnya. Luar biasa senangnya hati Mila. Karena setelah kepergian ayahnya, Mila hanya bisa berharap apakah ia masih dipertemukan dengan ayahnya atau tidak. Sekarang Mila telah bersama dengan pelukan ayahnya yang tak pernah ia duga sebelumnya. Itulah akhir semua kesedihan yang ia alami bersama sang ibunda tercinta.

Novel “some one like you” ini menghadirkan serial cerita yang mampu mengispirasi banyak orang terutama pemuda-pemudi. Novel ini juga mampu memotivasi semua kalangan agar tidak ragu menapaki terjalnya kehidupan. Sebuah inspirasi yang luar biasa. Namun masih ada yang belum sesuai dengan isinya. Terutama cover dan judulnya. Seharusnya gambar cover lebih hidup bukan abstrak sebagaimana yang sedang dipakai. Adpun judulnya, lebih baik diganti dengan judul yang lebih menggugah karena alur ceritanya bukan mengagumi seseorang melainkan cerita tentang pembelajaran dalam kehidupan

Advertisements

Selaksa Rindu Untukmu

Cuaca cerah tak berawan. Langit biru indah berhias bintang-gemintang. Tiupan angin sepoi menambah indah dan hangatnya malam ini. Malam pertama setelah ditinggal pergi indahnya berkah Ramadhan.

Entah, aku ingin menuliskan lanjutan cerpen yang sebelumnya. Akan tetapi, semerbak rindu itu tak bisa ku hapus malam ini. Rindu dengan suatu masa saat kita bersama. Saling sapa. Saling tanya kabar. Dan selaksa kerinduan yang menerpa.

Ingin ku buang rasa rindu itu. Namun, semakin aku paksa untuk menyingkirkan rasa rindu itu, maka semakin kuat tarikan rasa rindu itu. Rindu bertemu denganmu. Namun, aku sadar, aku belum bisa menemuimu sekarang.

Tulisan ini, aku curahkan dengan segenap rasa untuk mengobati rasa rinduku padamu. Namun, aku sadar, ada yang lebih berhak untuk menerima aduanku ini. Allah. Ya, Allah lah tempatnya. Dengan perantara doa yang aku panjatkan kepada-Nya, seakan telah mengusir kerinduanku padamu.

Malam ini, tepatnya hari kamis, 2 Syawwal 1437 H. Aku merasa sepi. Apapun yang aku rasakan sekarang, aku tidak bisa memastikannya. Aku hanya merasa rindu dengan seseorang.

Aku hanya berharap, suatu ketika, orang yang aku maksud membaca tulisan ini. Mungkin besuk, atau lusa, atau satu minggu kemudian, atau satu tahun kemudian, entahlah, aku tidak akan pernah tau kapan ia akan membaca tulisan ini.

Di pulau seberang yang jauh ini, aku sisipkan doa kepada Rabb ku juga Rabbmu, agar dirimu dan keluargamu senantiasa dilindungi oleh Allah dan senantiasa diberi nikmat dan rahmat olehNya

teruntuk yang jauh di sana

Bangka Belitung, 2 Syawwal 1437 H
salam rindu
sang peminang bidadari syurga

Lezatnya Untaian Ukhuwah

Derai air mata mengalir membasahi pipi

Melunturkan rona merah yang begitu memesona

Tiada seorang pun yang mampu membendung air mata itu

Tanpa ukhuwah yang sekuat baja

 

Teman, sahabat dan semua orang disisi kita

Bak mutiara yang selalu dirindu dan di elu-elukan

Begitu berharga dan menyedapkan mata

Namun hanya seujung jari orang-orang yang tahu akan makna tersebut

 

Tanpa kawan, tanpa sahabat, tanpa orang-orang yang mencintai kita

Dunia terasa hampa dan hambar

Berjalan sendiri, terasa seperti ada yang mengawasi

Merinding kala membelah kesepian

 

Bersama mereka, duka, lara dan bahagia kita lalui bersama

Bersatu dalam dekapan ukhuwah

Berjalan bersama demi meraih mardhotillah

 

Kairo, 2 Syawwal 1438 H

Keutamaan Menghafal dan Muraja’ah Al Quran

Abdullah bin Amru bin Ash dari Nabi Muhammad SAW beliau bersabda “(Di akhirat nanti) akan dikatakan kepada para pembaca Al Quran, bacalah, naiklah, dan tilawahkanlah sebagaimana kamu tilawahkan sewaktu di dunia, karena tempatmu (di surga) sesuai dengan ayat terakhir yang kamu baca” (HR. Abu Dawud, An Nasa’i, Tirmidzi, dan dikatakan olehnya, hadits ini tergolong hadits hasan shahih)
Berkaitan dengan keutamaan menghafal dan memuroja’ah hafalan Quran, dalam kitab Shahih Bukhori dan Muslim disebutkan, Dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata, Rosulullah bersabda, “Betapa meruginya seseorang jika sampai berkata aku lupa akan ayat ini dan ini. Padahal harusnya ia katakan terlupakan. Dan agar tidak terjadi seperti itu, muroja’ahlah hafalan kalian, karena ayat Al Quran itu lebih mudah hilang dari dalam kalbu manusia dibandingkan hewan ternak yang diikat dengan tali” 


Salah satu keutamaan dalam mengimani Al Quran adalah dengan cara menghafalnya. Kalangan sahabat dan ulama salaf terdahulu saling berlomba dalam menjaga keutamaan terhadap Al Quran salah satunya menghafal dan memuroja’ah hafalan Quran. Sebutan bagi seseorang yang memberi perhatian lebih terhadap Al Quran baik secara tilawah ataupun hafalan dengan ungkapan ‘shohibul quran’. Al Qadhi bin Iyadh pernah berkata, al muaalafah (saling mencintai) sama artinya dengan al mushahabah (saling menemani). Ungkapan tersebut sama seperti ungkapan ‘ashabul jannah’. Maknanya adalah, cintai membaca Al Quran. Sebab orang yang senantiasa membiasakan diri dengan membaca Al Quran, maka lisan akan terbiasa mengucapkannya dan ia akan lebih mudah dalam membacanya. Namun jika tidak membiasakan diri, maka lisannya akan terasa berat dan sulit kala membacanya kembali. 
Telah banyak riwayat yang menegaskan tentang keutamaan Al Quran. Salah satu riwayat tersebut adalah sebuah riwayat dari Abdullah bin Mas’ud ia menyebutkan bahwa Rosulullah bersabda “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Quran, maka ia akan mendapat satu kebaikan, dan satu kebaikan itu akan diganjar sepuluh semisalnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR. Tirmidzi, hadits ini tergolong hadits hasan shohih).

Berdasarkan hadits tersebut di atas, sebagai seorang muslim yang mengimani Al Quran sudah barang tentu akan berusaha maksimal untuk membaca Al Quran. Selain itu, bagi sebagian umat muslim yang diberi kelebihan oleh Allah berupa kekuatan hafalan maka alangkah baiknya untuk dimanfaatkan menghafal Al Quran.

Terkait menghafal Al Quran, imam Qurthubi mengatakan, “Barangsiapa yang sudah menghafal Al Quran, baik seluruhnya atau sebagiannya, maka derajatnya lebih tinggi dibandingkan orang yang belum hafal sama sekali.” Nah maka dari itu, sudah sepantasnya kita sebagi umat muslim berlomba menghafal Al Quran. 

Setelah kita menghafal Al Quran, maka keutamaan selanjutnya adalah menjaga hafalan atau muroja’ah hafalan tersebut. Hal ini ditegaskan oleh sebuah riwayat dadi Abu Musa ra, dari Nabi Muhammad saw, beliau berkata, “muroja’ahkanlah hafalan kalian, karena demi Tuhan yang menggenggam jiwaku, hafalan Quran itu lebih mudah hilang daripada unta yang diikat dengan tali.” (HR. Bukhori). Ulama salaf mengatakan, “menuju puncak gunung tinggi itu sulit, tetapi lebih sulit mempertahankan diri di atas puncak gunung”. 

Begitu juga dengan menghafal dan muroja’ah hafalan Quran, menghafal itu sulit, tetapi lebih sulit mempertahankan hafalan. Akan tetapi, kalau kita sudah mengetahui keutamaan menghafal dan muroja’ah hafalan Quran, maka akan terasa lebih ringan dan mudah bagi kita. 

Sebagai penutup, terdapat sebuah nasehat indah dari Imam Sufyan Ats Tsauri bagi penghafal Al Quran, “Wahai para penghafal Al Quran, tegakkanlah kepala kalian, karena jalan kalian sudah jelas. Bekerjalah dan jangan menjadi beban bagi manusia. Janganlah kalian menambah-nambah kekhusyukan yang sudah ada dalam hati. Bertakwalah kalian kepada Allah dan carilah pekerjaan yang baik.”
Sumber pustaka

Shohih Bukhori dan Muslim

Sarah Hadits At Tirmidzi

Kitab Fathul Bari

Badar NB. 2017. Kisah Kaum Salaf Bersama Al Quran. Jakarta : Pustaka Al Kautsar

Daun Yang Dirindukan

Duhai daun, engkau begitu setia menemani tangkai yang telah menopangmu. Saat hujan lebat menerpamu, engkau tak merintih kesakitan karena derasnya air yang menimpamu. Kala angin bertiup kencang, engkau tetap kokoh memegang sang tangkai. Daun, aku kagum padamu, kesetiaanmu begitu tulus, begitupun cinta yang kau berikan kepada tangkai yang telah menopangmu. Duhai daun, andai kau bisa bicara, aku akan memintamu untuk menerangkan bagaimana caranya kamu mampu setia dan tulus memberikan cintamu.
Anisa merenung di bawah jendela kamarnya. Ia begitu kagum dengan lambaian daun di samping rumah yang rimbun. Pagi ini cuaca sangat menyenangkan untuk bercengkrama dengan alam. Begitupun dengan Anisa. Ia sangat menikmati suasana pagi di sekitar rumahnya.
“Assalamualaikum.. Anisa? Kamu tidak berangkat bekerja? Sudah beranjak siang sayang. Abi kamu juga sudah berangkat.”  suara ibu Anisa di balik pintu kamarnya. Ia tidak sadar kalau ibunya sudah mengetuk pintu empat kali. Ia terlalu asyik dengan lamunan tentang kesetiaan dan keikhlasan.
“Eh…iya bunda. Sebentar Anisa buka dulu pintunya.” Anisa berlari mendekati pintu. Ia pun langsung memeluk dan mencium kening ibundanya.
“Kamu kenapa sayang kok tidak berangkat kerja, kamu sakit?” tanya ibundanya. Menyelidik.
“Tidak bunda, Anisa tidak sakit kok, nih Anisa sehat kan.” kata Anisa sambil tersenyum. Meyakin ibundanya kalau ia benar-benar sehat. Ibundanya hanya tersenyum.
“Kalau sehat kok tidak berangkat kerja? Bukannya hari ini masih hari kamis?” tanya ibundanya. Semakin penasaran.

“Ayolah sayang, berceritalah kepada bunda, bunda siap jadi tong sampahnya kok.” tambahnya. Merayu.
“Emm…” Anisa bingung mau menjawab apa. Karena ia tidak punya alasan untuk menjawab semua pertanyaan ibundanya.

Ia tidak masuk kerja bukan karena sakit, bukan juga karena hari libur apalagi cuti. Tapi karena ia ingin merenungi surat dari Hasan yang diberikan dua hari lalu. 
“Ayo dong masak sama bundanya sendiri nggak mau jujur?” desak ibunda.
Anisa semakin bingung mau menjawab apa. Ia mempertimbangkan semua kemungkinan yang akan terjadi. Ia tau kalau berterusterang atau tidak, ibundanya tidak akan marah, abahnya pun juga sama. Beliau berdua telah mendidiknya untuk berkata jujur, menahan amarah, menepati janji. Pasti kalau seorang guru tidak akan pernah melanggar apa yang telah ia sampaikan kepada muridnya. Prinsip itulah yang ditanamkan abah dan ibunda Anisa pada dirinya. 
“Emm.. Anisa tidak apa-apa kok bunda. Bunda tidak perlu khawatir sama Anisa” jawab Anisa dengan rona merah di pipi nya. Ia belum berani berterusterang pada bundanya.
“Rona merahmu keluar sayang, pasti ada yang kamu sembunyikan dari bunda. Coba Anisa cerita sedikit saja sama bunda ya sayang, bunda nggak akan beranjak dari kamar kalau Anisa belum cerita sama bunda.” desak bunda. Ibundanya selalu tau kalau muncul rona merah di pipi Anisa, pasti ia memendam sesuatu. Dan itu satu-satunya senjata paling ampuh untuk melumpuhkan Anisa agar berterusterang tentang apapun yang sedang di alaminya.
“Baiklah bunda, Anisa mengalah. Emm..tapi sebelum bercerita, bunda harus janji dulu ya.!” Anisa selalu minta syarat kalau mau bercerita banyak hal pada bundanya dan juga pada abahnya. Entahlah ada susuatu yang menarik kalau dia sudah berkata seperti itu. 
“Iya sayang, janji apa? InsyaAllah bunda akan menepatinya.” jawab bunda dengan senyum mengembang. Ia pun mengelus rambut putri kesayangannya. 

“Bunda jangan bilang ke Abbah ya kalau Anisa pernah bercerita sama bunda.” jelasnya. Ibundanya pun hanya mengangguk. Tanda setuju. 
“Bunda, dua hari lalu Anisa dapat surat dari Hasan, padahal Anisa belum pernah bertemu sama Hasan sebelumnya. Surat itu di titipkan lewat teman kerja Anisa bunda. Sebentar ya Anisa ambilkan dulu suratnya.” Anisa menuju almari bajunya dan mengambil surat yang di bungkus amplop warna merah muda berbentuk hati. Surat itu sudah ia baca setelah ia terima dari teman kerjanya.
“Ini bunda suratnya.”  Anisa menyerahkan amplop berbentuk hati itu kepada bundanya.
“Wah putri bunda tersayang sudah ..ehm ehm.” bundanya tertawa geli. 
“Bunda biasa aja lah, dulu kan bunda juga pernah sama abah.” Anisa tidak mau kalah sama bundanya. Ia berani ngomong seperti itu karena dahulu bundanya pernah bercerita tentang pertemuannya sama abah. Hampir persis kejadiannya. Hanya waktu yang membedakan. 

Ibundanya pun membuka amplop merah muda itu dan membaca isinya.
Dear : Anisa Ummahati
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh 
Segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam, berkat rahmatNya, nikmatNya, dan hidayaNya kita dipertemukan dalam satu atap suci. Islam. Shalawat serta salam tetap kita haturkan kepada nabi Pamungkas Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan pengikutnya sampai hari kiamat kelak.
Anisa, aku telah lama mengenalmu melalui teman-temanku. Aku ingin mendatangi orangtuamu dan meminta izin untuk meminangmu. Namun, aku memiliki suatu urusan yang menyangkut masa depanku dan keluargaku. 
Anisa, bagaimana menurutmu, apabila kamu dihadapkan dengan dua pintu, padahal kedua pintu itu menghubungkan ke jalan yang tujuan akhirnya sama. Pintu-pintu itu memiliki desain yang sangat menawan. Apabila dirimu membuka kedua pintu itu, maka kamu akan menjumpai jalan yang penuh dengan bunga dan buah-buahan di sepanjang jalan sampai tempat tujuanmu. Sepanjang jalan itu pula, kamu juga akan mendapati kenikmatan-kenikmatan yang kamu inginkan. Dengan kenikmatan itu, kamu bisa merasa nyaman ketika berjalan sampai tempat tujuanmu kelak.
Anisa, pintu manakah yang akan kamu pilih untuk menempuh jalan menuju tempat tujuanmu? Padahal keduanya memiliki kesamaan dan keduanya benar-benar memiliki kelebihan yang sama.
Anisa, mungkin hanya itu surat yang bisa aku buat. Maafkan diriku yang hina dan begitu lemah ini. Belum berani menyatakan secara tegas tentang keputusanku. Setiap malam aku selalu memohon kepada Allah agar Dia memberi  kekuatan kepadaku. Aku berharap, dirimu tidak menaruh harapan pada diriku karena surat ini.
Terimakasih

Wassalamualaikum warahmatullah
Jeddah, 2 Ramadhan 1437 H
Hasan 
— bersambung—

Sang Penerus Kehidupan

Tak pernah mengeluh
Tak peduli peluh mengucur deras membasahi tubuh
Tubuhnya bak mesin yang bekerja tanpa henti
Tanpa pamrih ia menanam dan menuai
Meski slalu dipermainkan para tengkulak
PETANI…
Dialah Sang Penerus Kehidupan
Tanpanya tiada secuil makanan yang bisa dikonsumsi
Jerih payahnya menghadirkan cita rasa tersendiri
Menggugah pemuda tuk menekuni jasa-jasanya
PETANI…
Kau adalah bapak yang takkan pernah tergantikan
Selalu menyinari saat pangan mulai redup
Kau senantiasa tampak kokoh dan tak tergoyahkan
Saat badai krisis ekonomi menyapu elemen bangsa
Duhai Sang Penerus Kehidupan
Tetaplah hidup sampai titik tanah penghabisan